by

Ketika Orde Baru Peralat Mahasiswa UI untuk Jatuhkan Soekarno

Oleh : Tito Gatsu

Sedang ramai berita mengenai BEM UI yang melakukan hate spech kepada pemerintah ini memang cerita lama cara- cara orde baru untuk merongrong kekuasaan pemerintah yang syah , pada masa lalu Soeharto memang aktif mendekati Mahasiswa UI untuk melakukan demo ketika Bung Karno melantik kabinet Dwikora II ketika ingin mengambil kekuasaannya kembali dari tangan Soeharto yang menjabat sebagai kepala staf TNI AD. Soeharto justru membiarkan dan mengkoordinir mahasiswa terutama UI untuk melakukan unjuk rasa. Akhirnya munculah Supersemar atau surat penunjukan Soeharto untuk melakukan penertiban dan keamanan dari kerusuhan yang diciptakannya sendiri melalui aksi mahasiswa dan pelajar.

Juga ada aksi yang dinamakan kudeta merangkak dengan konspirasi parlemen dan Angkatan Darat akhirnya Soeharto bisa menjadi Presiden. Pada 24 Februari 1966, tepat di hari pelantikan Kabinet Dwikora, terjadi demonstrasi besar-besaran oleh mahasiswa, yang menimbulkan dua orang korban jiwa, Arief Rahman Hakim (mahasiswa Fakultas Kedokteran UI) dan seorang gadis cilik bernama Zubaedah.

Dari angkatan ’66 ini, lahirlah nama-nama seperti Cosmas Batubara, Abdul Gafur, Fahmi Idris, dsb. Para mahasiswa yang berperan penting dalam aksi-aksi massa ini kemudian berkontribusi sebagai menteri di masa Orde Baru. Cosmas Batubara, mahasiswa Universitas Indonesia yang juga Ketua Presidium Pengurus Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) dan Ketua Presidium KAMI Pusat yang ketika itu bertindak sebagai pemimpin para mahasiswa. Kelak di masa Orba sempat menjadi Menteri Tenaga Kerja Indonesia dan Menteri Negara Perumahan Rakyat Indonesia. Abdul Gafur, anggota HMI dan Ketua Presidium KAMI Universitas Indonesia, menjadi Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia.

Fahmi Idris, pimpinan HMI yang juga menjadi Ketua Senat FE UI (1965-1966), menjadi Menteri Perindustrian Indonesia dan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Indonesia ke-19. Selain itu, ia juga menjabat sebagai menteri di masa Reformasi, yaitu sebagai Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Indonesia di masa Presiden Susilo Bambang Yudoyono.

Kisah Angkatan 66 (dan juga aktivis Reformasi) yang di masa selanjutnya turut memperkuat sistem, sering menjadi anekdot dan bahan ironi di masyarakat kita. Di masa muda jadi aktivis, setelah menjadi pejabat di demo aktivis generasi selanjutnya. Hal ini pula yang kerap menghasilkan apatisme dan ketidakpercayaan terhadap gerakan mahasiswa. Anak-anak muda yang tampak idealis dipandang sebagai orang-orang yang memang belum kenal enaknya uang dan jabatan.

Postulat bahwa mahasiswa hanya idealis hanya di saat muda (dan kemudian idealisme itu luntur setelah “jadi orang”), tentu tidak selamanya benar. Meski ada beberapa aktivis yang nampak demikian, tidak berarti semua aktivis mahasiswa seperti itu. Catatan lain yang penting ialah cara kita bersikap terhadap sejarah dan masa lalu. Kita tak dapat melihat satu sisi dari sejarah. Misal memandang satu sisi dari Orde Baru dan Orde Lama dengan mengabaikan sisi lainnya.

Soekarno, dan terus berusaha menjatuhkan dengan mengekspos setiap kelemahan Soekarno sehingga melahirkan kebencian luar biasa masyarakat kepada presiden RI pertama tersebut. Peran-peran dan jasa Bung Karno terhadap bangsa sengaja dihilangkan Menolak, membenci dan merendahkan sedemikian rupa atau memuja-muji Soeharto seolah tanpa cela ialah sikap psychological warfare yang sangat tercela dan kitapun bisa menilai sejauh mana moralitas para mahasiswa yang bisa dimanfaatkan oleh para politikus busuk hamba sahaya rezim orde baru .Membuka kebenaran sejarah adalah untuk meningkatkan nasionalisme dan moralitas bangsa .Dengan demikian sejarah bangsa akan bermakna bagi kehidupan kita hari iniSalam Kedaulatan Rakyat

Sumber : Status Facebook Tito Gatsu.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed