Oleh: Supriyanto Martosuwito
Jika Anda ingin membuktikan campur tangan Tuhan dalam kehidupan manusia maka simaklah sepenggal episode dalam kehidupan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Ketegarannya menghadapi kedzaliman serta balasan yang dia dapat sungguh sungguh bukti Tuhan berpihak padanya.
Sendirian dia menghadapi ujian dan pendzaliman oleh kelompok politik sektarian yang ganas. Menghadapi pengadilan dan terali besi penjara. Lalu orang orang “berpesta” menikmati kemenangan mereka. Dan dia hanya bisa mengingatkan bahwa kelak Tuhan akan mempermalukan mereka.
“Percayalah, sebagai penutup, kalau Anda menzalimi saya, yang Anda lawan adalah Tuhan yang Mahakuasa, Maha Esa. Saya akan buktikan satu per satu dipermalukan. Terima kasih, ” katanya dalam pembelaan terakhirnya di pengadilan. Dan pernyataannya itu telah terbukti!
Satu per satu tokoh tokoh yang melakukan pendzaliman tumbang, dipermalukan, dihinakan di depan massa, ditangkap KPK, diborgol, diadili, menangis, tewas mengenaskan oleh lilitan penyakit yang menyakitkan dan sangat menderita. Juga balasan penjara.
Dalam kata yang umum, Ahok BTP menyebut pembalasan datang dari “Tuhan Yang Maha Kuasa” , “Maha Esa” – yang artinya Tuhan kita semua, Tuhan yang kita yakini bersama. Tuhan yang memberikan keadilan bagi semua, tanpa memandang suku, ras dan agama.
Lalu, siapa Tuhan yang dimaksud oleh mereka – di seberang sana ? Di atas namakan oleh mereka? Siapa Tuhan yang dibela demi mendzalimi Ahok. Agama macam apa yang dibela dan digunakan sebagai senjata fitnah dan pendzaliman – sehingga Tuhan Yang Maha Esa, justru berpihak kepada orang yang dituduh “penista agama”?
Kita meyakini bahwa Ahok tidak punya riwayat penganut ilmu hitam. Perdukunan. Dia sangat modern dan rasional. Dia juga bukan penyembah dewa dewa seperti keluarga besar dan nenek moyang leluhurnya. Dia taat ibadah selama di penjara dan rajin mengutip ayat suci dari agama Samawi.
Jadi nampak kasat mata bahwa pembalasan kepada yang mendzalimi Ahok bukan dari ilmu hitam atau dewa dewa Tuhan Maha Esa lah yang turun tangan – membantu Ahok untuk mempermalukan orang orang yang menudingnya sebagai penista agama. Karena justru merekalah yang menista agama untuk nafsu dan ambisi kekuasaannya.
LAKON Ahok BTP belum selesai. Sederet tokoh lain yang memenjarakan Ahok dan menikmati kejatuhan Ahok masih ada yang berjaya. Orang yang yang bermain kata menjual “tenun kebangsaan” tapi dengan sengaja justru merobeknya. Mengeksploitasi ayat dan mayat, masih senyum senyum dan eksis.
Kita yakini Tuhan Maha Esa akan memberikan keadilan. Dengan cara-Nya.
Bagi Ahok BTP dan bagi kita semua. Amin.
PS : Saya lampirkan foto kenangan saat BTP Ahok masih di Balai Kota yang selalu siap menampung aspirasi warga. Menjadikan Jakarta bersih. Menyempatkan waktu mengunjungi mereka lewat acara kondangan di akhir pekan. Kini tak ada lagi pemimpin ibukota sepertinya.
(Sumber: Facebook Supriyanto Martosuwito)











Comment