by

Ilmuwan Muslim

Oleh: Luthfi Assyaukanie

Setiap kali saya berbicara tentang kemunduran dunia Islam, ada sebagian kaum Islamis yang berargumen bahwa Islam pernah jaya di masa silam. Mereka mengirimkan link dan foto-foto ilmuwan Muslim seperti Ibn Sina, al-Khawarizmi, Ibn Nafis, Ibn Rushd, dan banyak lagi.

Seolah-olah saya tidak tahu tentang itu semua.

Gini ya, kalau para ilmuwan yang link dan foto-fotonya kalian kirim itu hidup sekarang, orang jenis kalianlah yang akan mengecam, mencaci, dan mengafirkan mereka. Ilmuwan seperti Ibn Sina, Ibn Rushd, dll, itu pada masanya dan era sesudahnya, dikafirkan oleh banyak ulama.

Mereka dianggap sesat karena menjunjung tinggi kebebasan, berpikir kritis, dan mendiskusikan hal-hal yang membuat banyak orang Islam gerah. Jangankan kalian yang tak berilmu. Al-Ghazali yang dianggap filsuf saja tak sanggup menerima pikiran Ibn Sina.

Dia mengafirkannya dan menempatkannya di neraka jahannam, karena mempertanyakan soal kebangkitan jasad manusia setelah kematian. Jika orang terhormat seperti al-Ghazali saja begitu sempit lingkar otaknya, apalagi kalian yang tak belajar filsafat, tak tahu bahasa Arab, dan tak mengerti sejarah peradaban dunia.

Asal kalian tahu, sebagian ilmuwan Muslim itu jika tidak mulhid, agnostik. Bahwa mereka tampil berpakaian seperti ayatullah Khomeini, itu karena busana yang normal pada zaman itu ya memang begitu.

Bahwa mereka seolah-olah seperti religius, itu karena tuntutan keadaan. Mereka bekerja kepada sultan dan raja, sebagai ahli hukum (qadi), dokter, dan penasehat politik.

Secara personal, seperti terungkap dari karya-karya mereka, mereka adalah para pemikir bebas.Al-Ghazali paham sekali perilaku para filsuf dan ilmuwan Muslim di sekitar istana, karena dia pernah berada di sana, pernah melewati masa-masa itu, sebelum tobat.

Para ulama menilai ilmuwan dan filsuf Muslim bukan dari tampilan mereka, tapi dari pandangan-pandangan dan karya mereka. Ibn Taymiyah dan ulama Salafi menganggap kafir –atau paling tidak, zindik– semua filsuf.

Sebagian besar ulama menganggap rendah ilmuwan/filsuf Muslim dan tak menghormati karya mereka. Jadi, tidak mungkin orang yang membenci kebebasan, pada saat yang sama mengagumi Ibn Sina dkk. Impossible. Mustahil.

Lain halnya kalau dia tak mengerti persoalan.

(Sumber: Facebook Luthfi Assyaukanie)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed