Habib Lutfi, Jatman dan Narasi Kebangsaan Kita

Pesan Kebangsaan

Dalam sejarahnya, jaringan tariqah berperan penting dalam perjuangan antikolonial. Peristiwa 1888 di Banten menjadi tonggak sejarah betapa para penganut tasawuf yang menggerakkan perjuangan untuk melawan rezim kolonial. Jaringan tarekat terbukti efektif untuk menggerakkan perlawanan, dengan nilai-nilai tasawuf dan jihad untuk memperjuangkan kemerdekaan.

Sosok guru tasawuf, semisal Haji Abdul Karim, Haji Tubagus Ismail, dan Haji Wasid, merupakan motor penggerak pemberontakan di Banten, melalui gerakan 9 Juli 1988, yang dikenal Geger Cilegon, sebagaimana dicatat Sartono Kartodirjo (1984), Pemberontakan Petani Banten 1888.

Di Jawa Tengah, dikenal sosok Kiai Rafa’i yang menggerakan jamaahnya untuk melawan kolonial Belanda. Kiai Rifa’i lahir pada 13 November 1786, di Tempuran, Kendal. Dalam kitab Nazam Wikayah, Kiai Rifai menggerakkan perlawanan:

Slamete dunya akherat wajib kinira// nglawan raja kafir sekuasane kafikira

Tur perang sabil lewih kadene ukara //kecukupan tan kanti akeh bala kuncara

[keselamatan dunia-akhirat wajib diperhitungkan// melawan raja kafir semampunya perlu dipikirkan, Juga perang sabil lebih dari ucapan// cukup tidak menggunakan pasukan yang besar]

Dalam narasi panjangnya, gerakan tariqah menjadi basis perjuangan untuk melawan rezim kolonial, sekaligus menjaga kemerdekaan. Pasa masa kini, jaringan tariqah berfungsi sebagai pilar nilai-nilai kebangsaan, untuk menjaga negeri ini agar terhindar dari perpecahan serta menjadi solusi atas tantangan radikalisme dan geostrategis di dunia internasional.

Dalam sebuah konferensi ulama thariqah internasional di Pekalongan, Juli 2016 lalu, Habib Luthfi berpesan tentan pentingnya cinta tanah air. “Wahai bangsaku, relakah negeri kita ini terpecah belah? Jika tidak, ikuti kata-kata saya, bismillahirrahmaanirrahim, asyhadu anlaa ilaaha illallah wa asyhadu anna muhammadar rasulullah, radhiina billahi robba, wa bil islaami dina, wabi muhammadin nabiyya wa rasula. Kami berikrar, bela negara adalah wajib, bela negara adalah wajib, bela negara adalah wajib!”

Dalam ungkapan Habib Luthfi, bela negara dan upaya mencintai tanah air itu mempunyai pengertian yang luas. “Mungkin ini disebabkan kurangnya pendidikan dari orang tua. Sehingga anak menjadi rabun akan bangsanya. Padahal wajib hukumnya bela negara. Memajukan pendidikan, ekonomi, pertanian itu termasuk dalam kategori bela negara. Kekayaan apa yang ada di negara masing-masing,” terangnya.

Jatman tidak sekadar perkumpulan para penganut tasawuf. Gerakan tariqah ulama sufi menjadi oase bagi bangsa ini untuk tetap menebarkan wajah Islam yang penuh kedamaian. Dari selasar muktamar, keberkahan berpendar menyelami lubuh hati kami, para pengais cahaya.

Sumber : geotimes.co.id

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *