by

Gelar LC

Oleh : Ahmad Sarwat

Lulus LIPIA tahun 2001 saya secara tradisi menambahkan gelar Lc di belakang nama saya. Saya bilang secara tradisi, karena memang sekedar tradisi saja dan bukan gelar resmi. Asal tahu saja bahwa kuliah S1 di LIPIA itu tidak pakai sidang skripsi. Begitu juga semua kuliah keislaman di berbagai negara Timur Tengah yang lain. Sehingga gelar itu memang tidak resmi, sekedar tradisi saja. Di LIPIA saya bukan hanya tidak pernah sidang skripsi, bahkan wisuda kelulusan pun juga tidak pernah saya alami.

Setidaknya untuk angkatan saya. Angkatan lain kadang ada dan kadang tidak ada. Tapi seingat saya, gelar Lc yang saya sematkan di belakang nama saya itu belum pernah ada yang komplain. Padahal secara resminya gelar Lc itu adalah gelar yang100% fake, tidak pernah ada dan agak-agak liar. Bukan karena kuliahnya abal-abal, tapi karena memang officially LIPIA dan banyak kampus di timru tengah sana yang tidak pernah memberi gelar kesarjanaan seperti itu. Saya kurang paham apakah sebutan al-laisans yang konon dijadikan dasar gelar Lc itu merupakan gelar kesarjanaan yang resmi atau tidak.

Sebab yang pakai gelar Lc itu seingat saya cuma lulusan dari Indonesia saja. Orang Arab lulus S-1 gak ada yang menempelkan gelar Lc di belakang nama mereka. So unik ya?

Ayah ibu saya sama-sama lulus kuliah S1 di Mesir. Tak satu pun dari mereka yang pakai gelar Lc. Ayah saya malah bergelar doktorandus alias Drs. Lalu ibu saya jadi bergelar doktoranda alias Dra. Beberapa dosen saya juga lulusan Mekkah atau Madinah, namun tak satu pun yang membubuhkan gelar Lc di belakang nama mereka. Pernah ada keluarga saya lulus Madinah, tapi kok gelarnya aneh yaitu LTH. Gelar apaan itu?

Kalau ijazah di LIPIA saya sih tertulisnya Bachelorius. Dulu di negeri kita ada yang bergelar BA. Konon itu gelar untuk sarjana muda. Jadi dari manakah asal muasal gelar Lc kalau begitu? Saya kok belum baca jurnal atau hasil penelitian terkait hal itu. Lalu kenapa saya pakai gelar itu? Karena alumni angkatan di atas saya pada pakai gelar itu. Jadilah tradisi turun temurun sampai sekarang. Semua ustadz di Rumah Fiqih Indonesia pun bergelar , Lc. Karena semua memang lulusan LIPIA. Yang lucu justru istri saya. Beliau ini S-1 nya bukan LIPIA, tapi jebolan Internasional Islamic Univesity of Islamabad Pakistan.

Tapi akhirnya ganti mazhab dan pakai gelar Lc. Soalnya kalau pakai gelar aslinya memang jadi rada ajaib : Aini Aryani, LLB (Hons). Hehe, gelar apaan kayak gitu? Padahal gelar itu resmi dari kampusnya, sah dan halal. Terdiri dari dua gelar, karena S1-nya gabungan dua fakultas yaitu Syariah dan Hukum (Sharea and Law). Tapi karena gelarnya selalu menyisakan pertanyaan baru, ogah ribet menjelaskannya, sudah lah menyesuaikan dengan trend menjadi Aini Aryani, Lc Biar nggak berisik. Hihihi

Tapi kalau Anda kuliah di UIN atau pun kampus di Indonesia, tidak bisa bergelar Lc. Sebab meski tidak official, tapi semacam ada ijma’ sukuti bahwa gelar Lc itu dianugerahkan buat mereka yang lulus S-1 di LIPIA, Azhar, Madinah, Sudan, Pakistan dst. Pokoknya kampus Islam luar negeri. Pernah ada teman saya bikin lembaga pendidikan non formal, kepingin lulusannya dikasih gelar Lc. Kira-kira boleh nggak ya?Sebenarnya tidak ada larangan. Tapi akhirnya dia batalkan karena alasan kurang percaya diri. Bukan apa-apa, takutnya ada orang iseng ngajak ngomong pakai bahasa Arab, ternyata menjawabnya cuma pakai bahasa Arab gaya pondok pesantren. Lha kan malu-maluin. Ana khalas tha’am. Anta khalas? Hayaa namsyi-namsyi. Anta faqot lah. Ana uridu naum nih. Hehe

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed