by

Ferdian Kurang Ajar, Tapi Tak Selayaknya Diperlakukan Tak Manusiawi

Ferdian memang telah melakukan penipuan. Dia dijerat dengan Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) dengan ancaman hukuman maksimal 12 tahun dan denda Rp 2 miliar. Ungkapan permintaan maaf darinya tapi bohong mungkin membuat publik marah dan polisi pun sangat antusias untuk segera menangkapnya.

Jujur awalnya saya sangat muak dengan Ferdian. Apa yang diperbuat sama sekali tidak terpuji. Dia layak untuk dihukum. Tapi melihat perlakuan yang diterima olehnya, jujur dari hari nurani saya merasa dia diperlakukan tidak adil. Digunduli, dirundung, dibully, ditelanjangi, dimasukin tong sampah bukanlah perlakuan yang manusiawi. Terlebih, kesalahan Ferdian tidak seberapa dibanding para koruptor dan bandar narkoba di Indonesia. Mereka yang seharusnya lebih layak mendapat perlakuan seperti itu. Video Ferdian diperlakukan tidak manusiawi sudah banyak beredar di media sosial.

Saya tak mengerti apakah memperlakukan Ferdian dengan menelanjangi, merundung, membully, memasukkan ke tong sampah apakah ada dasar hukumnya. Kalau memang ada, seharusnya bukan hanya Ferdian yang mendapat perlakuan tidak manusiawi seperti itu. Kalau memang tidak ada dasar hukumnya, saya kira kuasa hukum Ferdian bisa memprotes perlakuan tidak manusiawi seperti itu.

Kalau ulah Ferdian dianggap sebagai penipuan, saya kira tidak sedikit youtuber lain yang juga melakukan hal yang sama (prank yang ada aspek penipuannya). Bahkan, baru-baru saja ada ustadz yang mengatakan bahwa kiamat akan terjadi tanggal 15 ramadhan. Apakah ini tidak disebut sebagai penipuan terhadap masyarakat?

Kebetulan saja ulah Ferdian dilakukan di tengah pandemi covid-19 sehingga seolah kesalahannya sangat besar. Padahal jika dipikir secara logika, Ferdian tidak merugikan siapapun. Ferdian hanya mem-php orang dengan memberikan kardus sampah. Tapi tidak merugikan siapapun. 

Namun saya kira bukankah seringkali masyarakat dijanjikan diberi bantuan oleh pejabat dari tingkat daerah sampai pusat, tapi terkadang realitanya tidak jadi dapat bantuan? Atau jadi dapat bantuan tapi jumlahnya terkadang sampai ke rakyat sudah disunat beberapa kali? Bukankah itu juga mem-php rakyat?

Ferdian memang melakukan penipuan publik. Tapi saya kira banyak sekali orang dari rakyat kecil sampai pejabat bahkan tokoh agama yang melakukan kebohongan publik? Bisa dicek pada Pilpres 2019 lalu dimana banyak sekali kebohongan-kebohongan yang dilakukan oleh para politisi. Bahkan di setiap pilkada banyak calon-calon kepala daerah yang menjanjikan banyak hal, tapi setelah jadi lupa dengan janji-janjinya.

Hukum di Indonesia memang harus ditegakkan, tapi jangan tebang pilih. Jangan tumpul ke atas tapi runcing ke bawah. Jangan sampai menghukum orang karena faktor benci. Fokus dan objektif kepada perbuatan jahat yang dilakukan. Seyogyanya siapapun yang melakukan kejajatan juga dijerat hukum.

Jangan sampai juga memperlakukan tersangka seperti terpidana. Ferdian sampai saat ini masih tersangka, belum terbukti bersalah menjadi terpidana. Bahkan bisa jadi di persidangan nanti terbukti tidak bersalah. Kenapa sudah diperlakuan seperti terpidana? Apa memang sudah menjadi rahasia umum di Indonesia dimana tersangka diperlakukan seperti terpidana?

Ulah Ferdian memang kurang ajar, tapi memperlakukannya dengan tidak manusiawi (digunduli, ditelanjangi, dibully, dirundung, dimasukin tong sampah) juga kurang ajar, tak ada bedanya. Semoga penegak hukum di Indonesia bisa bekerja seprofesional mungkin dan memperlakukan tersangka ataupun terpidana secara tak manusiawi. Jangan sampai penjara bukannya membuat penjahat jera, tapi malah membuat semakin jahat karena perlakuan yang tidak manusiawi.

 

(Sumber: Facebook Saefudin Achmad)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed