Oleh: Suntoro Amkarakas
Ego adalah kerja pikiran. Orang serakah dan ingin menang sendiri adalah respon kerja pikiran makanya disebut Egois.
Sedangkan Suprago adalah dorongan jiwa.
Orang orang pinter, nampak alim dan kelihatan relijius adalah hasil dari pengetahuan yang didapat lewat pengalaman pikiran. Mereka tahu nilai nilai yang harus dipegang, tahu mana yang salah dan mana yang benar, mana yang boleh dan mana yang tidak.
Tetapi korupsi dan penyelewengan juga banyak terjadi di lingkungan mereka.
Apakah mereka tahu apa yang dilakukan adalah salah?.
Pastinya tahu dan mereka sadar. Tetapi kenapa hal tersebut dilakukan. Apakah karena kebetulan setan sedang lewat?
Jangan buru buru menyalahkan setan. Kasihan setan terus disalahkan. Sebab setan dan Iblis tugasnya memang menguji kualitas keimanan seseorang. Lulus tidaknya bukan karena godaan tetapi tergantung kualitas iman seseorang.
Suprago adalah dorongan jiwa yang membuat pikiran tidak bisa bekerja rasional. Bahwa korupsi dan penyelewengan adalah perbuatan yang pastinya bakal ketahuan dan akan menjatuhkan martabat. Tetapi pikiran orang orang pinter tersebut akan selalu menjawab *Ah, tidak apa apa, pasti tidak bakal ketahuan*. Karena ada kemungkinan 10 persen tidak ketahuan. Dan 90 persen kemungkinan ketahuan tetapi “dorongan jiwa” membuat yang 10 persen menguasai 90 persen.
Jawaban pikiran tersebut menjadi standar ketika seseorang akan berbuat kejahatan.
Seandainya di semua tempat ada CCTV yang setiap pelaku kejahatan akan terungkap maka di dunia ini tidak akan terjadi kejahatan. Padahal para Malaikat memegang CCTV.
Sanksi penjara dan sanksi sosial sudah pasti, tapi itu tidak akan terbaca pikiran oleh orang yang akan berbuat kejahatan. Dan kejahatan itu bisa dilakukan oleh siapa saja, kecuali yang dianugerahi sifar ma’sum.
(Sumber: Facebook DDB)











Comment