by

Penyemangat untuk Perawat Stroke

Oleh: Supriyanto Martosuwito

Dukungan “ayo semangat!” sering diberikan kepada penderita stroke dan mereka yang terkena serangan pembuluh darah di otak itu – yang tiba tiba jatuh dan tubuhnya lunglai, tak bisa digerakkan.

Menurut pengidap stroke sendiri, yang perlu disemangati adalah orang orang dan keluarga yang merawat. Sebab, tanpa semangat mereka yang mendadak harus merawat, pengidap stroke otomatis tak berdaya dan kondisinya semakin parah.

“Kalau yang merawat stroke hilang semangat, praktis yang kena stroke tak terurus dan susah sembuhnya, “ kata Suryo Tanggono, sahabat jurnalis yang tinggal di Bekasi.

Ini cerita dan saran yang minta saya menuliskan, dari Mas Suryo Tanggono alias Mas Tatang Ali Suryaning Alam setelah dirinya melewati masa genting serangan stroke, beberapa bulan lalu.

Lebih cepat pulih dari yang diduga, dia bicara merepet di hape, pekan lalu, dia langsung berbagi pengalaman menuju kesembuhan stroke yang menyerang dan mengakibatkan sepruh tubuhnya lunglai.

“Saya ingin berbagi pengalaman dengan pengidap stroke dan keluarganya, “ katanya,dengan suara yang belun jelas benar tapi bersemangat bicara. Begitu banyak yang dibicarakan sampai ngos ngosan tapi apa yang terpikir di kepalanya dan tertumpahkan sering melompat lompat.

“Saya kan motret, nggak nulis. Sampeyan yang nulis, ” pinta fotografer studio dan lapangan ini.

Kami, saya dan teman teman karibnya, tak menyangka Mas Tatang – panggilan akrab pensiunan fotografer majalah “Femina” ini – bisa sembuh secepat ini. Belum sembuh benar, tapi progresnya membaik.

Sekira buln April 2022 lalu, dia mendadak jatuh di kamar mandi dan saat dilarikan ke rumah sakit sempat terlantar di ruang tunggu ICU – lama terduduk di kursi roda, dengan wajah mengenaskan – melewati “golden hours” yaitu lima jam pascaserangan, yang secara medis bakal lama penyembuhannya.

Nyatanya dia mendekati pulih begitu cepat.

Saya dan teman teman meyakini, kehadiran Arief, therapy tradisional dari Pagar Nusa-NU, yang rutin menanganinya, sangat berperan dalam kesembuhannya.

Bersama GusDurian Liliek Sugianto Lie yang membezuknya, sempat menyaksikan sendiri, bagaimana kakinya yang tak bisa digerakkan dialiri kabel listrik, yang diikat di sendok dapur, dan sungguh menyengat – seperti kena stroom – bagi teman yang normal.

Tapi kaki Mas Tatang yang lunglai itu tak bereaksi dengan sundutan stroom itu.

Sore hingga malam itu, saat kami menemaninya, bersama teman teman, yakni Erica Damayanti and the gangs menyemangati saat berusaha menggerakkan sebelah tangannya.

“Ayo bisa, ayo bisa..terus..terus…” kami saling teriak.

Kehadiran para sahabat silih berganti, dari dalm dan luar kota memberikan bantuan, dongan moral, dan menyemangati mempercepat proses kesembuhannya. Juga menunjukkan mas Tatang disayang teman.

Dalam hitungan minggu, kemudian, dia sudah bisa ke kamar mandi sendiri, meski untuk berjalan penuh perhitungan dan menyeret sebelah kaki. Padahal, sebelumnya, mengandalkan sepenuh pada bantuan isteri dan anak-anaknya.

“Jelas saya pengin sembuh! Ngotot banget saya! Tapi tanpa dukungan isteri dan anak, saya gak berdaya, “ katanya.

Peran keluarga yang telaten merawat memberi dorongan pasien untuk bangkit.

Ya. Kita sama sama tahu bahwa mengurus orang dewasa yang kena stroke seperti mengurus bayi. Mendadak seperti ada bayi lagi di rumah. Bayi sebesar, setinggi dan seberat orang dewasa. Musti sedia pempers, memandikan, mengganti pakaiannya, menyuapi, dan sering mengeluh ini itu yang tak jelas suaranya, karena tak bisa bicara.

PERSAHABATAN kami sedang mesra-mesranya saat musibah itu datang.

Saya dan Mas Tatang Suryo Tanggon baru berkenalan di pesantren/padepokan Gus Nuril, di Jakarta Timur, November 2021 lalu dan langsung menjadi akrab, karena kami satu frequensi. Sesama jurnalis, sesama pemerhati spiritual dan peminat diskusi agama – ya diskusi saja – dan sesama suka motret artis, model dari angkatan yang sama, meski tak pernah bareng di lapangan. Membuat kami tak habis habisnya berbagi pengalaman.

Narasumber yang kami wawancarai dan kami foto sebagiannya sama dan saling konfirmasi.

Mbak Yohana Yenny Kumala Dewi, isterinya yang ramah dan nyantai, mempererat persahabatan kami.

“Dia penggemar Koes Plus, “ kata Mas Soeryo saat mengenalkan di rumahnya di Bekasi.

“Suka T-Koes atau Neo Jibles? “saya menodongnya.

“Neo Jibles! ” Mbak Yohana menjawab spontan. Kami pun ‘toss’.

Sesama penggemar Koes Plus dan Neo Jibles. Klop!

Mbak Yohana rajin menyediakan teh, kopi, cemilan dan makanan enak, bila saya dan Liliek S. Lie bertandang. Tapi yang utama keramahannya. Kalau main ke rumahnya Bekasi, kami menginap. Soalnya jauh dari stasiun Bekasi dan enak ngobrol berlama lama.

Bahan obrolan tak ada habis habisnya. Kebetulan Mbak Yohana asli Kebumen. Sesama Warga Republik Ngapak. Nambah asyik lagi.

MAS TATANG Suryo Tanggono mengakui, dia pernah bertengkar dengan isterinya dalam proses penyembuhan beberapa bulan terakhir. Mood sedang jelek. Ditambah lelah, letih, capek ati, lantaran masalah menggunung datang mendadak, sehingga terjadi perubahan drastis, membuat yang merawat putus asa juga.

Bisa dimengerti. Namanya juga manusia.

Kadang Tatang mengaku bandel, yang sebenarnya marah pada diri sendiri. Nampak susah diurus, pengin ini itu, tapi kondisinya begitu. Bla ..bla.. bla.

Lalu sama sama emosi dan meledak.

Dia berbagi cerita bahwa proses penyembuhan memang tak mudah. Emosi naik turun bukan hanya ada si penderita stroke, melainkan juga yang merawatnya.

Karena itu, dia berpesan dan mewanti wanti, yang perlu disemangati bukan hanya yang terkena stroke. Melainkan juga pasangan dan orang serumah yang ikut merawatnya.

Dalam hal ini saya kagum pada Mbak Yohana dan Grace, putrinya, yang tak cuma menerima kegantengan Mas Suryo Tanggono, saat masih bregas waras – melainkan juga saat kena stroke ini.

Pasangan luar biasa.

(Sumber: Facebook Supriyanto M)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed