by

Doa (Entah Apa Maksudnya)

Oleh: Sahat Siagian
Saya tak ingat kapan persisnya saya berhenti dari kebiasaan berdoa.
Doa yang saya maksud dalam tulisan ini adalah meminta ini dan itu kepada Allah. Entah kenapa saya merasa bahwa itu cetek banget. Allah jadi terasa dangkal.
Buat para pendoa model begituan, Allah seolah terjengkal. Kalau doa Anda terjawab, orang-orang memuji Tuhan: Allah kita sungguh baik dan pemurah. Kalau doa Anda tak terjawab, sebarisan orang datang menghibur: Allah tahu yang terbaik bagimu.
Ada sebarisan pelamun lain yang menguatkan Anda: semua indah pada waktunya. Percayalah, Allah tak meninggalkanmu.
Cuma tiga itu. Tak ada kemungkinan lain seolah Allah terpenjara oleh tiga kemungkinan. Dangkal banget. Selain dangkal, keyakinan terhadap doa membuat Allah tak lagi kekal. Mari kita telisik:
Menurut KBBI, kekal berarti “tidak berubah, tidak bergeser”. Di takrif seperti ini frasa “kekelan energi’ sebetulnya salah tafsir. Energi berubah bentuk: dari angin ke daya; dari putaran ke daya; dari tawa ke perasaan bahagia di sekelilingmu. Itu kalau ditafsir secara sederhana.
Yang dimaksud dengan kekekalan energi adalah energi tidak hilang atau berkurang. Kamu pakai energi yang terhasilkan dari pembakaran bensin menjadi energi yang menggerakkan mobil. Setelah mobil berjalan dan Anda sampai di tujuan, energi tersebut berubah bentuk menjadi macam-macam termasuk rasa lega karena sudah tiba. Rasa lega menghasilkan banyak kemungkinan. Pendek kata, meski berubah bentuk, energi tidak berkurang apalagi hilang.
Allah, yang menjadi tujuan permintaanmu, ternyata berubah oleh doa. Semula dia nggak ada kerjaan. Lalu kamu berdoa. Dia mendengar (seturut keyakinanmu). Setelah itu dia menolak, atau meluluskan, atau menunda jawab–itu 3 kemungkinan yang saya sebut di atas.
Karena itu posisi Allah berubah setelah kamu berdoa: dari diam ke mengabulkan atau menolak atau menundajawab. Tak sama sekali kamu masukkan “Allah cuek” dalam daftar kemungkinanmu.
Sialnya, Allah cuek pun adalah perubahan. Maksudnya, semula Allah gak punya urusan. Lalu kamu yakin Allah mendengar doamu. Sebagai salah satu reaksi, Allah cuek. Dengan demikian cuek adalah salah satu kemungkinan dari reaksi Allah. Berarti Allah berubah: dari gak mikir apa-apa jadi berpikir dan memutuskan cuek.
Doamu membatalkan kekekalan Allah. Kalau tidak kekal maka kemungkinan paling logis adalah Allahmu bakal binasa di suatu saat kelak. Trus ngapain kamu masih menyembah Allah yang begituan?
Jangan bilang uraian saya di atas adalah persepsi Sahat Siagian semata. Itu argumen logis, fundamental. Saya menggumulinya bertahun-tahun, kepingin banget pikiran seperti itu takluk agar saya tetap berdoa. Ternyata sampai sekarang saya masih belum berdaya. Karena itu saya berhenti berdoa sebelum gila dan sebelum membunuh Allah.
Trus bagaimana saya menjalani hari-hari, menapaki tantangan, hambatan, kekuatiran, kecemasan, kegelisahan, dan menghadapi hal-hal tak terduga?
Saya berkeyakinan bahwa saya hidup di dalam Allah. Gampangnya, saya membayangkan diri sebagai janin di dalam rahim Allah.
Anda tahu apa yang dilakukan janin agar ia hidup? Tak ada. Berpikir pun ia tidak tentang ibunya. Dia sama sekali tak pernah merasa kuatir, cemas, atau syak. Dia juga tidak percaya bahwa Bunda akan berketerusan memeliharanya. Yang saya maksud dengan “tidak percaya” adalah bahwa terma “percaya” tidak ia kenal. Dia tidak syak sekaligus tidak percaya. Dualitas tak berdaya terhadapnya.
Jadi, saya tak meminta kepada Allah. Saya berada di dalam rahim Allah. Saya nikmati hidup secara apa adanya. Satu-satunya harapan yang saya bentang adalah berkarya bagi istri dan 5 anak, bagi para sahabat, dan bagi dunia.
Tapi saya masih berdoa. Lho kok?
Saya berdoa dalam diam, mematikan kata, merasakan dan menikmati degup jantung Allah.
Sungguh menggetarkan.
 
(Sumber: Facebook Sahat Siagian)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed