Oleh : Nurbani Yusuf
Rumusnya adalah : santri dan abangan tidak bisa mendapat kekuasaan sendirian. Keduanya harus berkongsi untuk berbagi kekuasaan sesuai selera yang dimufakati. ———-
Anderson dan Lidlle dua pengamat politik senior telah banyak memberi kata bukti bahwa kekuatan santri dan abangan jika dilakukan sendirian tak bisa cukup menopang beban politik yang multikultur, multi etnis dan multiagama dalam satu dekapan. Meski mengklaim 80 persen penduduk mayoritas muslim, realitas politik umat Islam dicacah kecil-kecil dalam bentuk ideologi dan aliran yang tidak mudah disatukan. Membubarkan kelompok FPI atau HTI — bukan berati rejim Jokowi melawan umat Islam.
Sebab masih ada NU dan ormas Islam lainnya yang dianggap merepresentasi umat Islam Indoenesia secara menyeluruh. Kongsi politik adalah pilihan untuk mendapat legitimasi, membutuhkan kekokohan dan pengakuan masyarakat. Memilih ormas Muhammadiyah atau NU atau FPI dan HTI yang direpresentasi dalam bentuk partai politik adalah pilihan dan kompromi. Pada model ‘one man one vote’, maka menjadikan NU sebagai teman kongsi adalah pilihan cerdik dan strategis.
Untuk memenangi sebuah pertempuran politik demokratis yang melibatkan banyak orang, banyak uang dan loyalitas total. Dikotomi Santri, Priyayi dan Abangan dalam konteks politik Indonesia terkini, saya pikir masih sangat relevan, meski Clivord Gertz telah mengemukakan 40 tahun silam. Santri dan abangan adalah sebuah realitas —- keduanya terbukti tak bisa berkuasa sendirian, sebab tak mencukupi. Kongsi adalah pilihan. Tinggal merumuskan model dan kesepakatan yang harus dimufakati.
Rumusnya adalah : santri dan abangan tidak bisa mendapat kekuasaan sendirian. Keduanya harus berkongsi, tinggal siapa yang diajak kongsi. Itu soal selera politik. Kongsi politik itu. Bukan PKB dengan PPP atau PAN dengan Partai Umat, HTI dengan FPI atau PKS dengan Gelora. Jika sesama umat Islam namanya bukan kongsi tapi jeruk makan jeruk. Tidak nambah kekuatan apalagi suara.
Ketika gerakan politik Islam sektarian menguat, maka Kresten politik sektarian, Budha politik sektarian dan agama atau kelompok Ideologi sektarian lainnya juga turut menguat. Pikiran sektarian inilah yang dicemaskan menjadi picu rubuhnya negara kesatuan yang dibangun di atas kebhinekaan dan keragaman.Terbukti model gerakan FPI dan HTI yang mengusung tema sektarian tak bakal sukses —- sebaliknja akan dilawan bahkan di internal politik umat Islam sendiri.
Isu tentang keadilan, kesejahteraan, pendidikan murah, hak azasi, pelindungan hukum, kesetaraan sosial dan ekonomi hilang dan diabaikan berganti dengan isu isu sektarian yang melelahkan tapi sepi manfaat : komunis, aneksasi China, jual negara, dan isu kapitalisasi agama, Syiah, kafer, munafiq, murtad dst yang sama sekali tak dibutuhkan rakyat. Rakyat makin diabaikan dan dijauhkan dari partisipasi politik yang demokratis.
Model politik sektarian hanya melahirkan kegaduhan massal, berisik tapi sesaat. Greg Barton menyebut bahwa Politik sektarian juga terbukti gagal di mana-mana — Afghan, Mesir, Suriah, Lebanon, Yaman, Iraq, Maroko luluh lantak karena sektarian. Tak satupun dari negara-negara timur tengah itu yang patut dijadikan model negara Islam ideal, bahkan sebaliknja, jauh panggang daripada api.
Sumber : Status Facebook Nurbani Yusuf











Comment