Cara Indonesia Bayar Hutang

Oleh : Agung Wibawanto

Sedikit terkait kebijakan miras minol yang dianggap panik. Para tim sukses menghasut, sudah bikin saja kebijakan itu pasti laku dapat uang banyak, demikian tuduhannya. “Kebijakan itu pada awalnya bertujuan ingin melokalisir daerah tertentu saja (4 daerah) yang diperkenankan membuat industri Minol sesuai dengan kearifan lokalnya (minol lokal),” jelas saya.”Selain itu diharap dapat menyerap tenaga kerja. Namun karena ada penolakan masyarakat, pemerintah yang mendengarkan lalu mencabut kembali kebijakan tersebut.

Bukankah itu menandakan pemerintah tidak egois memaksakan kehendak?” Obrolan ini ternyata menjadi pusat perhatian warga lain juga yang tadinya tidak kami sadari. Ya syukurlah kalau mereka mendengar dan bisa memahami.Pada akhirnya, terkait minol, kembali ke peraturan sebelumnya. Minol bisa terdapat dimanapun, menjadi permainan mafia impor minol, tidak terkontrol, dan tidak masuk ke kas negara.

“Itu yang saya bilang dari awal. Pemerintah panik karena terlalu banyak hutangnya sehingga berusaha bikin kebijakan menarik uang yang ngawur,” si warga satu itu masih menjawabnya. Saya tanya memang berapa hutang negara? Coba bandingkan dengan negara yang katanya maju seperti Jepang dan AS? “Pokoknya banyak, nanti saya tunjukkan datanya,” katanya lagi. Saya mengambil satu pisang goreng lalu mengunyahnya. “Bapak-bapak ada yang belum pernah berhutang? Mengapa kita berhutang? Karena tidak punya dana untuk memenuhi kebutuhan yang paling mendesak, betul?” Saya ajak mereka berpikir.

“Tidak ada pula negara yang tidak pernah berhutang, apalagi di tengah kondisi pandemi seperti sekarang ini. Bisa menjalankan pertumbuhan ekonomi di atas nol saja sulit. Kita di dalam keluarga dengan terpaksa berhutang namun diharapkan jelas keperuntukannya dan bagaimana serta kapan pengembaliannya. Pemerintahan sebelumnya mewariskan hutang yang memang sudah banyak.””Celakanya, dana hutang itu tidak berbekas dan tidak tercatat buat apa? Kebanyakan justru dimakan sendiri untuk kroninya ataupun keluarganya. Beda dengan sekarang. Banyak yang sudah dilakukan dan dibangun oleh pemerintah yang semuanya adalah kebutuhan utama.

Namun demikian diharapkan akan bisa kembali dari hasil tersebut. Jadi seperti dana usaha untuk sesuatu yang produktif, diputar. Tidak habis begitu saja apalagi bukan untuk rakyat.”Penjelasan saya ini membuat beberapa warga manggut-manggut, gak tahu paham atau ngantuk. “Presiden kan pernah bilang. Jika tidak ada perencanaan dan pingin mudah, ya habiskan saja semua dana kas negara untuk kasih makan semua penduduk, selesai. Tapi bagaimana kesudahannya? Bisa bertahan berapa lama seperti itu? Dana habis, cadangan devisa tidak ada, masyarakat pun menjadi tergantung.””Mau tidak berhutang juga mudah bagi pemerintah, tapi cabut semua subsidi. Harga BBM mahal, bayar listrik mahal dan semua-mua serba mahal karena tidak ada subsidi. Mau? Jangan-jangan ntar protes lagi? Jadi pada dasarnya hutang negara itu juga dinikmati oleh kita masyarakat untuk subsidi listrik, BBM, pelayanan kesehatan, pendidikan, jaminan sosial, infrastruktur dll.

Wong menikmati hutang mau, tapi kok protes hutang negara?””Salah satu agar kita bisa mendapat dana dan juga bisa membayar hutang yang sekarang sedang dilakukan pemerintah adalah dengan mengambil alih aset ataupun kekayaan negara yang dikuasai asing maupun penguasa terdahulu. Freeport, blok Rokan, dll bahkan kemarin TMII yang selama 44 tahun hasilnya tidak diterima negara apalagi dinikmati rakyat, kini diambil negara.””Kekayaan negara yang dirampok dan disimpan di luar negeri pun dilacak untuk diambil alih. Para koruptor tidak hanya pidananya saja tapi juga wajib mengembalikan uang yang dirampok. Terakhir presiden membentuk tim pemburu koruptor. Jadi, jika kita berhutang, jangan habis dibuat main judi atau buat mabok-mabokan atau hal lainnya yang gak produktif.””

Selain kebutuhan konsumtif yang sangat mendesak, maka sisihkan juga untuk usaha yang produktif sehingga menghasilkan. Gimana, masih mau mengatakan pemerintah panik? Contoh pemerintah panik itu seperti di Myanmar yang menembaki rakyatnya sendiri. Keadaan mencekam. Masyarakat tidak dapat beraktifitas dengan baik. Itu panik. Nah kita sekarang? Masih bisa kerja bakti sambil ngopi-ngopi kan?”Si Bang Jago berdiam diri. Saya menyampaikan pesan akhir, “Ada baiknya, kita lakukan yang bisa kita lakukan saja.

Bekerja dan menghasilkan untuk keluarga. Tentu baik untuk mengerti masalah bangsa, tapi ya seporsinya saja, apalagi jika tidak menguasai apapun pembahasan tentang itu. Jika punya pendapat jangan dipaksakan agar orang mengikuti pemahaman kita. Gak baik,” tutup saya.

Sumber : Status Facebook Agung Wibawanto

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *