by

Brukutan Tapi Koyok Setan

Oleh : Harun Iskandar

Ada seorang teman yang punya sebuah ‘outlet’ makanan. Franchise. Terpaksa tutup. Hasil penjualan ndak nutup biaya Operasi. Untung yang diharap, buntung yang didapat.Ruko pun terpaksa dijual. Ndak mampu nyicil. Karyawan pun dirumahkan, alias dipecat dengan hormat.Banyak contoh begini. Apalagi di masa pandemi Covid. Ini pula bukti yang tunjukkan, jadi juragan, pengusaha jika ‘skala’ besar, sangat ndak mudah. Syusyah . . .Tapi se-apes2nya juragan kalau usaha bangkrut, masih bisa bertahan hidup. Beras sekilo-dua, ikan teri, sambel kecap, masih bisa tersedia di meja. Lha, karyawan ? Usaha juragan tutup, bisa berarti kiamat. Alamat periuk nasi, wajan, maupun dandang, tengkurap di dapur. Yang ndak lagi ngêbul . . .

Itulah sebab mBak Inul, Darstista, penyanyi dangdut asal Bangil, Jawa Timur, misuh ‘cak-cuk’, pada mBak Neno Warisman, yang ajak karyawan ‘mini-market’ agar mogok. Masyarakat ikutan boikot.Mbak Inul ini juga ‘pengusaha’. Yang terkenal dan paling terpukul oleh Covid, ya ‘karaoke’nya. Beberapa outlet mesti ditutup.Mbak Inul hidup ‘kesrakat’ ? Ndak, masih sehat cantas, sehat oleh makanan bergizi, masih bisa bebas bergoyang ‘nge-bor’. Dalam rumah-nya yang ‘magrong2, pinggir ’embong’.Tapi kok mBak Inul ‘misuhi’ mBak Neno, ya karena dia peduli nasib orang lain, termasuk karyawannya . . .Pakean brukutan kelakuan koyok setan, Cuk ! Pisuhannya. Jadi ‘trending’ minggu ini . . .

Saya sempat nggondhog juga dengan ajakan Ketua Serikat Buruh, agar para Buruh mogok untuk ‘save palestina’. Hubungannya apa ? Lagipula ini masih musim ‘pandemi’. Dan sekarang lebih ‘canggih’ lagi. Malah ada penggalangan dana. Dalam satu minggu target 1 Milyar . . .Lucu. Wong para buruh ada yang makan disubsidi ‘bansos’ . . .Tambah lagi kalau pabrik bangkrut, karyawan di rumahkan, memang dia yang ‘mblanjani’ istri para buruh ? Biayai sekolah anak2nya. Bayar kontrakan mereka . . .

Ada dan banyak memang karyawan yang ‘kurang-ajar’. Ndak peduli, ndak mikir. Jika ‘nasib’ juragan ‘identik’ dengan ‘nasib’ dirinya.Tempohari kami belanja di supermarket. Besar dan terkenal. Seorang karyawan wira – wiri kesana kemari. Nggoda temannya. Dari jauh saya perhatikan. Tampilan ‘modis’ dengan jenggot pendek, kacamata minus, plus celana cingkrang. Ketika ada di dekat saya, dia menggoda si teman wanita, yang sedang sibuk nyusun barang dagangan ke rak2 pajang.”Cari barang, (buah dan sayur maksudnya), yang murah ndak ada,” ucapnya sambil ketawa2 kecil. Lalu dia ambil contoh beberapa buah dan sayuran.”Disini 15 ribu, di pasar cuma 3 ribu. Yang ini, di pasar 4 ribu, disini 12 ribu . . .” Katanya setengah bangga setengah mengejek. Meski ‘ngobrol’ dengan temannya, tapi ada di dekat saya, pelanggan, pembeli, yang mesti dengar. Kurangajar kan ?

Namun ada banyak juga karyawan yang ‘jempolan’. Contoh ini juga dari sebuah supermarket.Saya beli ‘Kayu Manis’. Minta 2 ons. Diambil oleh yang njaga sebuah kantung plastik bening ukuran sedang.Tangannya yang cekatan ambil ‘batang2’ kayu manis dari toples kaca besar. Dimasukkan dalam kantung plastik, yang nanti akan ditimbang sejumlah berat pesanan saya.Yang asyik, kayu2 manis ini ndak asal dimasukkan sembarangan. Disusun sejajar sesuai lebar kantung. Dari bawah keatas. Yang agak panjang, dipatahkan agar muat selebar ‘mulut kantung’.Saya yang ndak sabar, dan sedikit kasihan, omong dengan si mbak, ‘Langsung saja, mBak . . .’ Maksud saya ndak usah dipotong, langsung masuk saja. Toh di bagian atas masih tersisa banyak ‘space’ buat ikatan.Apa jawabnya, ‘Nanti ndak enak dilihat, Pak,’ Bayangkan. Kelas ‘customer service’-nya, kelas pelayanan-nya sudah sampai nyentuh ‘roso’. Seni . . .

Begitu lah para Karyawan, para Buruh. Kalau nanti ada yang ajak2 dema-demo, pikir dulu. Bener ndak, perlu ndak.Tapi ndak perlu juga terlalu takut ‘bersuara’. Toh, semua bisa dibicarakan, bisa juga diatur . . .Kalau perlu tanya mBak Inul Daratista dulu. Jika Inul misuh2 ‘Cak-cuk’, berarti jangan ikut. Apalagi kalau ditambahi, ‘Pakean brukutan kelakuan koyok setan !’Tinggal-ên mlayu ae, tinggal lari saja. Itu bukan saja ‘srigala berbulu domba’, tapi memang ‘setan’ yang ber-bulumata . . .Tabek . . .

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed