by

Main Ekspor

Oleh : Nia Perdhani

Waktu ramai bab tampah yang diekspor seharga jutaan kae saya sempat komen di postingan pelaku ekspornya yang sedang membela diri atas hujatan netijen. Kan ada biaya endebra endebre yang harus dibayar mahal makanya harganya wajar harga jual jadi mahal, begitu katanya.Tapi yang luput dari pembicaraan adalah barang kerajinan lokal yang dijual mahal di luar negeri itu pada banyak kali kita saksikan, tidak membawa peningkatan kesejahteraan bagi para pengrajinnya.

Bosnya jadi kaya raya sih iya.Eksportir itu juga menjelaskan tentang betapa mereka harus mengeluarkan budget besar untuk menjaga kualitas bahan dan pengrajin yang diupah standar UMK. Pertanyaannya, bagaimana upah standar UMK yang dia maksud itu sih? Berapa tampah yang harus diselesaikan seorang pengrajin tiap hari hingga memperoleh upah senilai UMK?

Teman karib saya pernah bekerja di brand rajut lokal ternama yang harga satu tas rajutnya bisa jutaan rupiah. Pada sekitar tahun 2008-2009 dia cerita sama saya, seorang pengrajin rajut itu upah per tasnya tidak lebih dari 5 ribu per tas di masa itu. Ya tinggal sehari mereka bisa bikin berapa tas ya itulah upahnya. Bayangkan saja sendiri keuntungan penjualan 1 tas itu berapa kali 5 ribu rupiah.

Jangan lupa derita pengrajin bulu mata anti badai dari Purbalingga. Setiap pasang bulu mata mereka hanya diupah 500 perak. Sehari rata-rata bisa menghasilkan 30 pasang bulu mata jadi penghasilan mereka 15 ribu rupiah per hari. Itu di tahun 2021 lho. Syahrini dan kawan-kawan kalau tau proses pembuatan dan upah mereka mungkin jadi nggak bisa melek kalo lagi pake bulu mata. Karena matanya jadi berat turut menanggung derita. Yang kayak-kayak gitu gimana cara pemerintah mengurusnya?

Di film Saving Capitalism, Robert Reich, mantan menteri tenaga kerja Amerika Serikat itu bilang, skala ekonomi kita sekarang sudah jauh lebih besar dibanding tahun 80an. Tapi penghasilan kelas menengah ke bawah tetap saja nggak kemana-mana. Ya bayangkan saja tahun 2021 itu UMK Jogja 1.800 ribu. Bisa mbayangin nggak sih dengan upah segitu gimana caranya beli rumah di Jogja? Di sisi lain subsidi pemerintah (termasuk juga bailout) untuk perusahaan-perusahaan besar terus meningkat. Kesejahteraan CEO korporat dan high level management nya meningkat secara eksponensial bahkan di masa pandemi kekayaan mereka tetap terjaga.

Kadang circle FB kita membuat sudut pandang kita kabur. Mana sih kemiskinan. Koncoku fb sugih kabeh kayane. Ra ono wong mlarat. Anane wong males. Memang banyak orang males. Tapi yang terus mlarat karena sistem jauh lebih banyak.

Sumber : Status Facebook Nia Perdhani

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed