by

Berebut Pendukung Jokowi

Oleh : Islah Bahrawi

Jokowi memenangkan dua kali Pemilu, artinya dia didukung oleh suara mayoritas di negeri ini. Lumbung elektoral ada pada Jokowi dengan perolehan suara pada 2014 dan 2019 yang tidak banyak berubah. Loyalitas pendukung Jokowi jauh lebih stabil. Jika ada kelompok yang gemar memainkan narasi “Turunkan Jokowi”, tentunya akan berlawanan dengan ceruk besar yang tak seimbang.Politik itu bukan soal gagah-gagahan di media sosial.

Ada kalkulasi demografis yang harus dilihat secara renik. Jika anda ingin berebut kue yang lebih lecil, irisan kue yang diperoleh juga akan jauh lebih kecil. Terlebih pertarungan elektoral dalam kelompok “anti-Jokowi” akan sangat sengit jika saja partai-partai yang baru berdiri akan lolos – seperti Ummat dan Gelora. Belum lagi pertarungan Demokrat dan PKS. Mereka semua akan berebut kue dalam loyang yang sempit.

Politisi dan Parpol harusnya berebut simpati pendukung Jokowi yang berlimpah. Dan kita tahu, pendukung Jokowi adalah lintas partai atau malah bukan simpatisan partai mana pun. Jokowi adalah “partai” sendiri. Jika anda seorang politisi dan tampil aktif sebagai pembenci Jokowi, maka resistensi dari mayoritas elektoral akan berhadapan dengan anda.Sebagian politisi berharap, dengan menyerangnya secara brutal bisa merebut kekuatan elektoral, karena ini periode terakhir Jokowi.

Namun kita tahu, pendukung Jokowi tipikal “silent majority” yang memang lebih suka “mengamuk” di TPS ketimbang di Medsos. Pendukung Jokowi baik partisan atau non-partisan pasti menunggu “karcis terusan” dari Jokowi untuk 2024.Prabowo menegur Fadli Zon yang seringkali menyerang Jokowi tentunya bukan tanpa alasan. Dia sendiri merasakan bagaimana masyarakat bersikap; selama dua periode “berdarah-darah” dengan “firebrand” dan politik identitas yang tetap tidak sanggup memenangkannya.

Kita tentu masih ingat, Jokowi yang lahir dari rakyat jelata saat itu selalu dijegal dengan banyak fitnah, tapi takdir langit memang tak pernah bisa dicegah. Goenawan Mohamad saat itu menulis; “harapan tak bisa dipesan, tak pernah dibisikkan dari udara, harapan hanya bisa dibangun dengan kerja, kerja, kerja”.#lawanintoleransi#antiradikalisme#lawanpolitisasiagama

Sumber : Status Facebook Islah Bahrawi

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed