Oleh : Aru Martino
Menafsirkan Alkitab itu sebenarnya gak sulit buat pemula. Cukup dengan teknik dasar sebenarnya sdh bisa memahami sebuah teks. Salah satu teknik dasar dalam sebuah penafsiran adalah dengan cara menggunakan metode konteks dekat dan konteks jauh. Apa maksudnya konteks dekat dan konteks jauh?Begini contohnya, Untuk mengetahui maksud sebuah teks dalam suatu pasal atau perikop, seseorang cukup mencari tahu artinya dari ayat terdekat, bisa satu atau dua ayat diatasnya atau satu dua ayat dibawahnya.
Kalo masih belum ketemu arti dari ayat tersebut bagaimana? Ya kita melangkah mundur dari satu atau dua ayat diatas maupun dibawahnya sampai kita bisa mendapatkan arti yang terkandung didalamnya. Jadi seseorang tidak bisa ketika ingin menafsirkan kitab A pasal 3 lalu segera menyimpulkan artinya berdasarkan pasal 1. Boleh saja hal itu dilakukan ketika dalam perikop atau pasal tersebut tdk kita temukan jawabannya.Tapi kalo dalam pasal atau perikop yang sama sdh ada jawabannya namun kita tetap ngotot memberikan tafsir berdasarkan pasal atau perikop yang berbeda, maka ada 2 kemungkinan kenapa itu bisa terjadi.
1. Kita tidak tahu bagaimana cara menafsirkan kitab suci.
2. Kita tidak setuju dengan jawaban yang ada dalam pasal atau perikop tersebut.
Kenapa bisa tdk setuju? Bisa jadi karena kita tidak rendah hati untuk mengakui kenyataan yang ada yang berbeda dengan keinginan kita. Kalo sdh begitu, Maka nomor 2 itu bisa disebut dengan istilah eisegesis. Padahal didunia tafsir, kita tidak boleh menggunakan teknik eisegesis. Kita harusnya menggunakan teknik eksegesis. Lalu apa bedanya antara eksegesis dan eisegesis? Eksegesis adalah menarik keluar maksud yang terkandung dalam ayat tersebut dengan menggunakan analisis yang seksama dan benar.
Kita harus mencari tahu siapa yang menulis, kita harus tahu latar belakang penulisan, kapan kitab itu ditulis, kepada siapa kitab itu ditujukan, bagaimana kondisi budaya pada saat itu, dlsbnya. Sedangkan eisegesis adalah memasukkan apa yang sdh menjadi kesimpulan awal dalam pikiran kita kedalam teks untuk dikeluarkan kembali menjadi sebuah tafsir. Dulu saya pernah ikut ibadah di beberapa gereja yang kalo gembalanya khotbah, apapun ayat yang dibahas selalu teh botol sosro minumnya ekh salah maksudnya apapun ayat yang dibahas hasilnya selalu kalo gak soal menabur ya soal menyesat-nyesatkan aliran lain.
Pokoknya isi khotbahnya mau pake ayat apapun selalu dihubungkan dengan kepentingan pribadinya. Jadi untuk para pemula yang mau belajar tafsir Alkitab, saran saya gunakanlah metode konteks dekat dan konteks jauh. Teman-teman bisa melakukannya tanpa harus sekolah teologia atau tanpa harus tahu bahasa aslinya.Kenapa saya bagikan pelajaran ini? Karena akhir2 ini saya merasa miris melihat banyak orang-orang kristen yang mudah percaya dengan tafsir-tafsir yang dibuat oleh orang-orang yang menurut saya tidak punya kemampuan yang mumpuni dalam hal ilmu tafsir. Begitulah pelajaran singkat cara menafsirkan Alkitab tingkat dasar yang bisa saya bagikan kepada teman-teman.
Sumber : Status Facebook Aru Martino











Comment