Antara Vero, Puput Dan Luput

Lalu perempuan-perempuan berusia 25-35 lewat di depan mata. Mereka tak sungkan menyapa dengan tawa belia dan rona segar. Percakapan lalu dimulai. Ada sesuatu terasa berbeda.

Di rumah, para suami berhadapan dengan aneka persoalan. Tentang anak, tentang pompa ngadat, tentang genting bocor, tentang tagihan cicilan mobil, cicilan rumah, dan bayaran uang arisan.

Di luar rumah, para suami bersenda dengan tawa paling manja, celoteh paling segar, rona paling kinclong, dan semua optimisme. Tak ada persoalan dibincang kecuali bagaimana menyusun kencan tanpa ketahuan istri.

Saya paham jika sebagian kaum saya menjustifikasi perasaan dengan milyaran alasan. Semua disusun dengan premis mayor-minor terafdhal, silogismenya dibangun kuat dan kokoh. Siapa bisa menyalahkan kalau Pak Rudi kemudian mengawini perempuan berusia 28 tahun?

Apa alasannya?

Tidak ada kecocokan lagi dalam berumahtangga. Itu gak bohong. Rudi memang merasa kalau Lina tak lagi sepadan dengan apa yang dia capai sekarang. Dia tak berlebih, tidak juga mengada-ada. Perasaan tidak pas, tidak cocok, tidak seimbang, hadir bersama perubahan yang melanda hidup Rudi.

Trus bagaimana?

Saya gak tahu. Saya tak punya perasaan tak pas macam itu. Istri saya adalah seorang perempuan paling tangguh yang menemani saya melewati bara paling mendidih, semak-belukar paling menyakitkan, titian di jurang paling curam, untuk sampai pada titik ini.

Dia memang tak semuda dulu, tak seanggun sekian belas tahun lalu, tak sebinal saat kami baru kawin. Ada yang berubah.

Dia semakin matang, semakin tangguh, semakin bijak, semakin kreatif, semakin ambisius, semakin commanding, semakin perkasa melindungi saya.

Bayangan keriput memang mulai tumbuh. Tapi degup di jantungnya saat mendekap saya tak berubah. Dalam kerentaan saya mendapati cinta yang bersusun bertumpuk-tumpuk, dibangun oleh 26.5 tahun perkawinan kami.

Dia memang mulai menyebalkan. Beberapa kali Muna mengulang cerita sama. Mulai pikunkah dia?

Mungkin. Satu saya pastikan: semua tanda-tanda ketuaan itu hadir bersebab tahun-tahun yang dia habiskan untuk mencintai saya.

Semoga saya tak pernah luput menyadarinya.

Sumber : Status Facebook Sahat Siagian

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *