Habibie

Sekali Lagi, BJ Habibie

Sampai akhir hayatnya jenius kelahiran Pare Pare ini menerima Medali Penghargaan (khusus) dari sedikitnya 12 negara. Bukan main. 
Selain itu, ia juga menjadi Anggota Kehormatan pada persatuan, komunitas atau lembaga bergengsi dan berkelas dunia dari lebih sepuluh negara! Salah satunya dari The Royal Aeronautical society, Inggris. 
Padahal, untuk masuk jadi anggota (apalagi Anggota Kehormatan) komunitas-komunitas ini sulit bukan main. Daftar persyaratannya panjang!

BJ Habibie, Orang Baik yang Pernah Dicemooh di Sidang MPR

Koar itu bergema dari mulut hampir seluruh peserta sidang, dan ditimpali pula oleh teriakan ejekan dari beberapa lintir orang. 

Di tivi, Habibie melangkah ringan menuju samping podium dengan tetap melempar senyum lebar ke arah para anggota majelis, yang sebagian tak beranjak dari duduknya. Cemohan itu baru berhenti setelah Habibie menempati tempat duduknya. Habibie disidang seperti pesakitan!

Bahasa Inggris Jokowi

 

Tentu pada posisi itu Jokowi kalah jauh. Jangankan pake bahasa Inggris, kadang pake bahasa Indonesiapun Jokowi terlihat lemah karena ia memang bukan orator.

Jokowi tidak pernah menghabiskan tahun-tahunnya dengan bersekolah diluar negeri. Ia datang dari keluarga miskin, yang untuk sekolah saja harus berfikir membiayai dirinya sendiri. Jadi wajar saja jika ia tidak akrab dengan bahasa diluar bahasa ibunya sendiri.

Sebagai Penghormatan, Presiden Jokowi Sempatkan Antar Pak Habibie ke Kediamannya

 

Semula informasi dari Komandan Paspampres Mayjen TNI (Mar) Suhartono, Pak Habibie akan turut ke Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma dan berpisah di situ.

Namun dalam perjalanan, Presiden Jokowi memutuskan mengantar Pak Habibie ke kediamannya di kawasan Patra Kuningan, Jakarta Selatan.

Ketika Pemimpin Tak Lahir Dari Zona Nyaman

Ilustrasi

Oleh Indy Hardono

"Leiden is lijden!" . Memimpin adalah Menderita. Pepatah kuno Belanda itu dikutip oleh Mohammad Roem dalam karangannya berjudul "Haji Agus Salim, Memimpin adalah Menderita" (Prisma No 8, Agustus 1977).

Karangan itu mengisahkan keteladanan Agus Salim. Agus Salim dikenal sebagai salah satu tokoh perjuangan nasional. Ia diplomat ulung dan disegani, namun sangat sederhana dan  sangat terbatas dari sisi materi.

Pages