Remuk Redam Kemunafikan Diterjang Badai Damai Natal
Mari kita bayangkan seorang kadrunwati yang sepanjang acara terpaksa harus mendengarkan musik dan narasi Natal yang penuh sukacita. Hatinya gundah, harga dirinya remuk redam, mau nekuk muka tidak ada nyali. Akhirnya yang dilakukan hanyalah tatapan kosong tanpa roh kemanusiaan. Jiwasrayanya eh jiwanya merapuh tak tersentuh, hilang terbang menatap kerlap-kerlip lampu Natal yang memenuhi gedung SICC.


