agama dan politik

Umat Yang Dibawa Demo Berjilid-jilid

Islam politik  (baca: Islamisme) sering menggunakan kata “umat” sebagai branding,  yang tujuannya tidak lain untuk mengaduk-aduk emosi para audience. Memainkan emosi di media sosial merupakan cara efektif untuk mendapat dukungan dari berbagai pihak. Hasilnya bisa dilihat sendiri, hanya dengan waktu singkat, mereka bisa mengumpulkan dan memobilisasi anggota, demi tujuan dan kepentingan politik mereka.

Apakah Prabowo Memperjuangkan Umat Islam?

Kenapa kelompok yang nengatasnamakan "ulama" itu mengajak umat mendukung Prabowo? Karena kepentingan elit yang mengaku ulama, bisnisman bermasalah, mantan napi, mantan jenderal-jenderal yang tidak mempunyai jabatan strategis di pemerintahan, barisan sakit hati seperti pecatan menteri, masyarakat korban fitnah dan hoax, menaruh harapan pada Prabowo, untuk meraih kembali apa yang pernah atau ingin mereka miliki.

Menyoal Masjid Dipakai Untuk Politik

Masjid yg ingin terjun k politik WAJIB mewarnai masjidnya sesuai warna partainya. Setidaknya harus ada lambang partai d dinding masjid. Agar umat tdk merasa tertipu.

Kalau secara global umat Islam cuma terbagi 2, Sunni atau Syi'ah, secara lokal nanti setidaknya umat Islam terbagi 16. Sesuai banyaknya partai peserta pemilu selanjutnya.

Jika Minum Starbucks Mendukung LGBT, Apakah Naik Haji Menyumbang Invasi Suriah dan Yaman?

Ini tentu bukan ejekan apalagi sindiran, tapi lebih pada upaya untuk merefleksikan diri. Ustadz Abdul Somad menjelaskan, semua kegiatan punya konsekuensi di akhirat. Apa pun itu. Misalnya: jika kita mengonsumsi kopi Starbucks, yang secara terbuka mendukung gerakan LGBT, maka kita akan berdosa bahkan bukan tak mungkin masuk neraka.

Kemarahan Shah Rukh Khan Saat Masjid Dikuasai Para Pembenci

Terlebih Indonesia, negara dengan  keragaman suku, agama, ras, dan budaya, dari Sabang  hingga Merauke. Sudah sepatutnya toleransi menjadi hal wajar dalam tiap-tiap kehidupan warga negara Indonesia. Demikian, membiarkan masjid dipenuhi oleh narasi-narasi intoleran dan radikal, yang dibumbui retorika-retorika, akhirnya bisa membuat umat tenggelam pada intoleransi, radikalisme, dan disintergrasi Indonesia.

Pages