Oleh: Lilik Hastuti Setyowatiningsih
Jika nemu status atau komen yang merayakan keberingasan hari ini, baiklah, kuunfriend saja. Muak aku sama manusia berstandar ganda. Teriak ketika korbannya adalah kawan, dan bersorak girang jika korbannya dianggap lawan. Tahukah kau, benih kekerasan sudah berjejak panjang di negeri ini. Negara, siapapun pemimpinnya, ikut bertanggungjawab atas pelanggengan semak belukar impunitas alias kekebalan hukum. Permisif dengan tindak kekerasan. Ikut merayakan keberingasan, karena ketidakberdayaannya terwakili dengan jotosan manusia lain. Mampus luh! Ayoo…hajarrr!!
Baru berapa hari lalu ada aktor Hollywood menggampar orang di depan umum dan alangkah banyak yang komentar: ‘Kalau gw, gak cukup dg gamparan!” atau ‘Begitulah cara menegakkan harga diri laki2.’ Bah!
Masih lekat di ingatan: parade benci, teriakan kafir, bunuh dalam kasus penggulingan Ahok. Siapa yang ngomong? Manusia2 berwajah garang kah? Gak juga. Sosok yang sehari-hari dikenal santun juga ada. Aku menyaksikan sendiri ibu2 sambil menggandeng balitanya ikut bersorak gantung Ahok dalam aksi2 mingguan di monas tahun itu.
Sampai detik ini, aku tak pernah suka dan tidak pernah pakai label2 ‘ceb*ng’ ‘k*mpret, k*dal gurun apalah itu. Seperti menyisipkan permusuhan di kepalaku sendiri. Berlawanan, iya! Berbeda ratusan derajat, jelas, wong aku memilih berpihak dalam pilihan politik. Juengkel setengah modar, puastiiii. Setidaknya aku mendidik otakku sendiri untuk tidak memelihara benci pada liyan. Alasannya, mungkin simple dan naif bagimu: bagaimana pun, ini bangsaku. Sama2 menghirup udara yang sama denganku. Menjejak tanah yang sama denganku. Mudahkah? Tentu tidak. Namanya manusia, bukan buah pepaya.
Apa paling buruk dari benci? Kau akan permisif akan hal2 yang melanggar hukum dan norma. Kau pelihara nafsu untuk menihilkan orang. Kau lupa mengeja kasih. Kau lupa dalam tubuhmu bersemayam cinta dan welas asih.
Apa paling buruk dari benci? Lebih 50 tahun lalu, negeri ini remuk redam dan kehilangan banyak nyawa, banyak manusia2 pintar, banyak cita-cita mulia membangun negeri, karena manusia yang dilindas permusuhan dan saling benci. Termakan konflik politik yang sengaja diciptakan.
Bertahun lalu, negeri ini nyaris terbelah hanya karena pilihan politik, dibungkus-bungkus dengan lautan benci dan murka, yang ini juga ada orang2 memainkannya. Kita masih memelihara itu hingga kini. Banyak yang bersorak kok menyaksikan makluk lain tikam menikam. Banyak yang terbahak menyaksikan orang lain dikeroyok dan dipermalukan.
Aku marah hari ini. Membayangkan nasip bangsaku, yang 23 tahun lagi, genap berusia 100 tahun. Membayangkan apakah anak semata wayangku, beroleh hidup damai bertahun2 nanti?
Apa yang paling faedah dari marah? Ternyata aku jadi rajin nulis status lagi!
(Sumber: Facebook Lilik Hastuti Setyowatiningsih)











Comment