by

Oposisi dan Kadrunisme: Mahasiswa Harus Bertanggung Jawab

Oleh: Meilani Buitenzorgy

Mahasiswa itu fitrahnya memang menjadi oposisi terhadap pemerintah. Mahasiswa menjadi wakil terdepan civil society dalam menjalankan peran control and monitoring terhadap kekuasaan dan pemegang kekuasaan.

Dimana-mana ya kodrat mahasiswa seperti itu, Bong. Dari Zimbabwe sampai Hong Kong. Dari zaman 1.0 sampai era 5.0. Masak lu mo maksa khusus mahasiswa +62, wajib declare jadi pendukung pemerintah? Hukum alam kok mau dibalikkan. Piye tho Bong.

Iya sih Pak Jokowi berkali-kali mengeluarkan statement menolak wacana 3 periode maupun perpanjangan masa jabatan. Iya sih pemerintah sudah menetapkan hari kasih sayang 14 Februari 2024 sebagai timing pelaksanaan next pemilu. Iya sih Pak Jokowi marah-marah di rapat kabinet, warning menteri-menteri yang koar-koar wacana 3 periode.

Tapi gak lama kemudian, Menteri Luhut, motor dari segala motor menteri yang koar-koar 3 periode, khan malah dikasih jabatan baru.

Jadi ya wajar-wajar saja kalau kemudian mahasiswa menuntut konsistensi dan kejelasan sikap Jokowi.

Dalam hal ini, Ade Armando, dan saya sekalipun, sejalan dengan spirit penolakan wacana 3 periode tersebut. Gak perlulah kita bahas berbusa-busa disini kenapa wacana 3 periode itu harus ditolak. Intinya, jauh lebih besar mudharat daripada manfaatnya.

Masalahnya, mahasiswa kok ya mesti tho mengidentikkan diri mereka dengan kelompok sektarian pemabuk agama. Kelompok yang mendukung persekusi terhadap kelompok minoritas. Kelompok intoleran yang anti perbedaan. Kelompok eksklusif yang selalu menganggap perspektif mereka sebagai satu-satunya kebenaran di muka bumi. Kelompok yang di berbagai negara juga eksis dan makin membesar. Kelompok yang kalau di Indonesia diberi label “kadrun”.

Contoh paling anyar, kenapa mahasiswa memilih tanggal 11 April untuk demo anti 3 periode kemarin.

11 April alias 114.

Identik dengan simbol angka keramat kelompok 411 dan 212. Tanggal perayaan tahunan kemenangan kapitalisasi ayat-mayat dan persekusi “penista agama”.

Demi apa coba, Adek-adek?

Apakah kalian tidak mampu membedakan antara perjuangan oposisi dengan gerakan kadrunisme? Atau jangan-jangan secara ideologi kalian memang penganut kadrunisme?
Inilah yang menjadi perbedaan mendasar antara gerakan mahasiswa ’98 dengan gerakan mahasiswa zaman now. Sehingga, gerakan mahasiswa zaman now sulit menangguk dukungan dari masyarakat luas. Selama mahasiswa zaman now masih terpapar virus kadrunisme akut, jangan mimpi bisa mengkapitalisasi spirit gerakan ’98.

Lalu bayangkan. Di hari demo mahasiswa yang SENGAJA dipilih tanggal perayaan persekusi “penista agama” kemarin, hadir massa persekutor “penista agama” dan sekaligus hadir pula salah satu orang yang mereka vonis sebagai “penista agama”.

Tak peduli bahwa Ade Armando kemarin hadir dalam rangka menyuarakan spirit yang sama dengan mahasiswa maupun massa persekutor tersebut, terjadilah penganiayaan brutal itu.
Lalu sekarang enteng saja mahasiswa berkelit ITU BUKAN KAMI?

Enak aja!

Bukankah kalian yang sudah dengan SENGAJA mengundang kelompok massa tersebut dengan memilih tanggal keramat mereka. Kan?

Bukankah kalian memang SENGAJA ingin memanfaatkan energi kebencian kelompok massa tersebut hanya demi klaim angka kuantitas pendukung demo. Kan?
Hellow adek-adek mahasiswa, kalian harus TANGGUNG JAWAB.

(Sumber: Facebook Meilani Buitenzorgy)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed