Oleh: Gustaaf Kusno Prabudi
Kalo saya jadi presiden Jokowi, saya akan melarang semua bentuk demonstrasi. Biarpun sdh ada payung hukum UU yg menjamin setiap warga negara utk menyatakan pendapatnya. Biarpun dgn tindakan itu saya berisiko akan dimaksulkan krn melanggar konstitusi. I just don’t care.
Demo atau unjuk rasa zaman skrg are not about people’s aspiration. Bullshit kalo ada yg bilang itu aspirasi rakyat. Demo skrg adalah alat politisi busuk. Yg bisa disponsori, dibayari dan diperalat. Ini sama sekali berbeda dgn demo mahasiswa wkt menjatuhkan Soekarno dan Soeharto. Masih ada idealisme dan hati nuraninya. Setelah zaman reformasi, demo hanyalah mainan mafia2.
Dan coba lihat betapa banyak kerugian dan kerusakan yg dialami setiap kali ada demo besar. Namanya unjuk rasa damai, tapi faktanya kita lihat sendiri. Selalu berakhir dgn brutal, anarkis dan barbar. Masyarakat dicekam rasa ketakutan dan tidak bisa melakukan kegiatan yg normal. Blm lagi preman2 dan penjahat2 yg menunggangi demo ini. Mereka membakar, menghancurkan, menjarah. Pihak keamanan selalu mewanti2 agar demo jangan sampai ditunggangi penumpang gelap. Tapi itu kan nonsens, bgmn mengontrol kumpulan org yg sampai puluhan atau ratusan ribu itu?
Kita tengok ke negara tetangga, Malaysia dan Singapura. Di kedua negara itu sangat jarang ada demo. Krn di negara2 itu ada Public Order Act dan Police Act yg segera menangkap Anda kalo tanpa izin melakukan unjuk rasa. Apa dasar UU itu? Kepentingan org banyak tidak boleh dikorbankan. Krn pada demo pasti akan mengusik kepentingan org banyak. Minimal jalan menjadi macet dan membuat suara bising.
Jadi, ya itulah kalo saya menjadi presiden Jokowi, akan saya larang semua bentuk unjuk rasa. Mau dikatain rezim represif masa bodoh. Mau dikatain rezim diktator masa bodoh. Mau dimaksulkan, gak peduli. Ini krn kegeraman saya sdh sampai di ubun2. Tapi ini kan cuma khayalan saja, if i were president Jokowi. Jadi cuma bisa menulis uneg2 belaka.
(Sumber: Facebook Gustaaf Kusno P)











Comment