Oleh : Pitoyo Hartono
Quacquarelli Symonds (QS) baru saja mengeluarkan ranking universitas di dunia. Ada banyak kriteria utk rangking ini. Salah satu yg terpenting utk jaman sekarang (meskipun saya pribadi tidak begitu suka), adalah Graduate Employability Rankings. Ranking ini menunjukkan seberapa “laku” lulusan satu universitas di arena global. Ingat ini rangking utk universitas secara keseluruhan, bukan orang per orang. Ranking teratas dipegang oleh MIT disusul oleh Standford, lalu UCLA.
Di Asia ranking teratas dipegang oleh Tsinghua Univ.(ranking 6), dari China (yg ada setingkat di atas Oxford), di susul oleh Univ. of Hongkong (10), dan National Univesity of Singapore (17). Utk univ2, atas di Asia yg lain: The Univ. of Tokyo (25), Fudan Univ. (33), Seoul National Univ. (34), Waseda Univ. (37). Cukup banyak univ. di Asia yg ada di Top 50. Ini menunjukkan bahwa univ.2 di Asia mulai punya “nilai jual” di pentas pasar kerja global .Bagimana dng Indonesia ? Teratas di pegang Unv. Diponegoro (251-300), Universitas Indonesia (251-300), Airlangga (301-500). Tanpa bermaksud mengecilkan, utk negara yg sudah lebih dari 75 tahun merdeka, dengan tradisi univ. jauh sebelum merdeka, kita masih ecek2 di tempat antah berantah.
Bandingkan dengan tetangga, University Malaya (131-140), utk Thailand: Chulalaongkorn Univ. (141-150), Thammasat Univ. (141-150). Suka tidak suka ini kenyataan. Setidaknya dilihat dari kacamata pasar kerja global level univ. kita di situ2 saja. Dari tahun ke tahun we are content with mediocrity. Ada tiga hal yg menentukan dalam membangun strategi pendidikan univ. Admission policy: strategi utk menyaring mahasiswa/i, dng memperhatikan relevansi dan level pendidikan yg ditawarkan oleh univ. tersebut. Saya nggak ngerti, misalnya jalur khusus utk penghapal Alquran di fakultas yg nggak ada hubungannya dng agama itu nyangkut di admission policy yg macam apa.
Curriculum policy: ini strategi utama. Kurikulum macam apa yg ditawarkan dan bagaimana melaksanakannya dalam membangun kemampuan mahasiswa/i. univ. tersebut. Diploma policy: ini output strategy, dalam arti universitas men-design lulusan semacam apa yg ingin dihasilkannya. Apa core capability nya? Sudah waktunya kita mulai menjual lulusan kita di kancah global. Ini tuntutan jaman. Kita nggak bisa selamanya jadi jago kandang. Ataukah kita ingin menunggu adanya ranking kemampuan utk masuk syurga ?
Sumber : Status Facebook Pitoyo Hartono











Comment