by

Pedagang Cino dan Jowo

Oleh : Harun Iskandar

Tur kecil dan singkat ke kawasan ‘Pecinan’ PIK, Pantai Indah Kapuk, kemaren, menyisakan ‘kenangan’ dan ‘harapan’. Maklum, semasa kecil dulu pernah dan kemudian sering tinggal di rumah Buyut dari pihak Ibu, di daerah Undaan Kulon. Kebetulan Buyut saya dagang jamu seduh di rumahnya yang berlantai dua, terletak di pinggir jalan besar, Jalan Undaan Kulon. Di seberang jalan ada sungai, yang berujung, bermuara, dekat Pelabuhan Tanjung Perak. Lewati juga bawah Jembatan Merah . . .Dulu sekali, sungai itu ndak kelihatan, tertutup bangunan ndak ‘resmi’. Namun ndak kumuh. Rapi. Kebanyakan jadi tempat usaha. Salah satu diantaranya, tempat potong rambut langganan Bapak. Adem dan teduh, halaman berpasir depannya ada pohon ‘keres’, kersen yang besar . . .

Tetangga Buyut, kiri-kanan, mayoritas ‘pedagang’. Etnis Tionghoa. Sepanjang jalan itu berderet ‘ruko’. Macam2 dagangannya. Sebelah kanan, saya ingat berdagang kacamata. Terpasang lampu tabung, motif garis2 berwarna-warni, yang menyala dan muter2 kalau malam. Cantik.Dalam gang2 di belakang rumah juga begitu. Banyak warga Tionghoa. Dulu kami sebut sebagai ‘Cino’. Gang Klimbugan 1, 2, 3 dst, atau Gang Undaan Kulon 1, 2, 3, dst . . .Sebutan ‘Cino’ itu ya biasa saja. Tanpa nuansa SARA. Enteng saja. Kayak nyebut tetangga kita yang ‘suku’ Jowo, Meduro, atau Sundo . . .

Kelak kemudian hari setelah dewasa dan nikah, baik saya maupun Nyonya, ternyata balik lagi dilingkungi ‘orang2 Cino’. Baik teman kerja, dagang, atau teman maen, yang nantinya banyak yang jadi akrab, seperti saudara . . .Percaya atau ndak, karena berteman dengan ‘orang2 Cino’ inilah, ‘naluri’ pedagang kami jadi tumbuh kembali dan terasah.Tumbuh kembali, karena ‘nenek-moyang’ kami dulu juga pedagang. Terasah makin tajam sebab kumpul2 dengan mereka, ‘Orang2 Cino’. Meski ndak semua merupakan ‘guru yang baik’, namun mayoritas adalah ‘contoh yang jempolan’ . . .

Waktu kami baru mulai, masih berkantor di ruang tamu rumah, ndak jarang dan tanpa segan, beberapa ‘bos’ perusahaan besar datang ‘bertamu’. Mereka lihat ‘potensi’ kami, yang diperkirakan bisa jadi ‘ujung tombak’ pemasaran barang2 mereka. Mumpung sebelum jadi ‘rebutan’, mereka datang dulu2an. Jeli, melihat pasar, dan tanpa gengsi yang ndak perlu . . .

Mereka juga tampil ‘menawan hati’. Pernah saya minta tolong benahi ‘tali jam’ tangan logam. Ndak bisa nutup rapat. Karena jam tangan ‘mewah’, saya berani bawa ke toko jam besar dan mewah juga. Setelah utak-atik sebentar, selesai. Normal lagi tali jam tangan saya. Berapa ? Yang jaga sekaligus yang ‘punya’ jawab, sambil senyum, ‘Ndak usah,’Mesti dia pikir, Bapak yang satu ini, saya, kalau butuh jam tangan, entah kapan, akan beli ke dia. Tanam budi dengan cara yang ‘ciamik’ dan menawan . . .

Sekarang contoh pedagang ‘Jowo’, ‘pribumi’ maksud saya Datang ke rumah bawa ‘dagangan’ pesanan saya. Saya bayar. Dia ndak bawa ‘susuk’, uang kembalian. Balik ke ‘lapak’nya, ambil uang kembalian. Lama dan ndak efisien. Beberapa waktu kemudian, saya pesan ‘barang’ lagi, via telpon, saya sebut juga uang ‘pecahan’ yang akan saya pakai buat bayar. Kenapa ? Agar dia siapkan uang kembalian. Ndak bolak-balik. Namun dia, di sebrang telpon sana, malah dengan ‘sombong’ njawab, ‘Ada kok, 50 ribuan atau 100 ribuan,’ Sombong dan kemlinthi . . . Kemudian saya pesan lagi, masih via telpon, tapi ndak omong bayar pakai uang pecahan berapa. Saya pikir dia sudah paham dan ngerti. Namun ternyata dia ndak bawa uang kembalian, lagi . . .Ya tak pisuh-pisuhi dia. Karena, selain bodho dan kemlinthi, juga habiskan waktu saya . . .

Begitulah . . .Sebenarnya etika dan cara ‘bisnis’ yang bagus sudah para ‘pribumi’ punya. Ulet dan tekun, misal. Banyak kita temui para pedagang ‘pribumi’, yang dari gelap dini-hari, sudah mulai bergerak. Harus mulai pagi2, sebelum rejeki dipatok ayam . . .Dan banyak contoh lagi . . .

Tapi ndak tahu kenapa, para pedagang ‘pribumi’ jarang yang menjadi kuat dan besar. Salah satunya, paling ndak menurut saya, sebab ndak punya ‘sparring partner’ yang bagus, yang mumpuni, dan yang kompeten. Lebih tepatnya kita pilih ‘definisi’ untuk kata ‘sparring partner’ dengan ‘keliru’Ada banyak arti, thesaurus’, kata sparring partner, namun kita lebih memilih arti sebagai ‘enemy’, bahkan ‘sworn enemy’. Musuh bebuyutan.Jenis ‘mahluk’ yang harusnya kita ‘dekati’, tapi malah kita ‘jauhi’. Bahkan kita ‘benci’ dan ‘musuhi’. Cuma karena iri, karena dengki . . .So . . . Siapa yang rugi . . . ?

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed