by

Salah Apa Ganjar Pranowo?

Oleh : Seruanhulu

Membahas gejolak yang terjadi diantara PDIP dengan Ganjar Pranowo ini sebenarnya rada malas.Karena yang pertama, biar bagaimanapun Ganjar Pranowo adalah kader PDIP. Oleh sebab itu, tentu saja hal ini juga merupakan masalah internal partai PDIP.Alasan yang kedua adalah karena hal ini berhubungan dengan Pilpres 2024, yang artinya masih terlalu dini untuk dibahas. Tapi karena kehebohannya sudah sampai di ujung langit, saya rasa tak ada salahnya juga untuk dibahas.Sebenarnya, isu ketidakharmonisan hubungan Ganjar Pranowo ini dengan beberapa elit pengurus PDIP termasuk Ketua Umum PDIP yakni Megawati Soekarno Putri, sudah lumayan lama.

Bahkan sudah berlangsung sejak ada survei yang menyatakan bahwa elektabilitas Ganjar Pranowo berada di posisi teratas, mengalahkan elektabilitas Prabowo dan Ketua DPP PDI Perjuangan Puan Maharani.Hanya saja selama ini publik tidak menanggapi secara serius.Sabtu 22 Mei 2021, Ketua DPP PDI Perjuangan Puan Maharani menggelar acara pengarahan untuk para kader dalam penguatan soliditas partai menuju Pemilu 2024. Pertemuan tersebut merupakan rangkaian acara HUT ke-48 PDI Perjuangan.

Seluruh kader PDIP baik eksekutif, legislatif dan struktur partai se Jawa Tengah diundang, kecuali Gubernur Jateng Ganjar Pranowo.Disinilah gejolak itu mulai memanas, berbagai asumsi dan opini berseliweran di linimasa media sosial, bahkan menjadi topik pembahasan utama di beberapa media online.Ditambah lagi statement Puan Maharani dan beberapa elit PDIP lainnya ketika diwawancarai oleh banyak media yang cenderung menyindir dan menjelekkan Ganjar Pranowo.Pertanyaannya, kenapa bisa demikian? Salah apa Ganjar Pranowo?

Jawabannya hanya ada dua opsi.Opsi pertama, PDIP memang sengaja menciptakan manajemen konflik sebagai bahan uji untuk mengetahui seberapa banyak dan seberapa kokoh dukungan rakyat terhadap Ganjar Pranowo jika seandainya diusung di Pilpres 2024 nanti.

Secara, kalau dilihat dari sudut pandang sejarah, strategi ini juga sudah pernah dimainkan PDIP di tahun 2012/2013 pada saat Jokowi digadang-gadang jadi Capres di Pilpres 2014. Dimana Jokowi kala itu masih menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta.Ketika itu Jokowi tak jarang mendapat omongan yang kurang bersahabat dari elit PDIP, termasuk dari Ketua Umum PDI Perjuangan. Tapi ternyata semua itu hanya bagian dari strategi semata, sehingga pada akhirnya PDIP tetap memutuskan mengusung Jokowi di Pilpres 2014.

Apakah strategi ini yang kembali dimainkan PDIP? Biarlah sang waktu yang menjawab.Opsi yang kedua adalah ada kader PDIP yang secara diam-diam ingin Nyapres di 2024 yang merasa tersaingi. Sehingga upaya menggeser Ganjar Pranowo menjadi sebuah keharusan baginya.Mengingat, kader PDIP yang memiliki potensi besar untuk jadi Capres di 2024 itu adalah Ganjar Pranowo. Karena angka elektabilitas dan popularitas beliau berada di posisi paling atas.Bahkan tak sebanding dengan elektabilitas Ketua DPP PDI Perjuangan Puan Maharani yang angka elektabilitasnya berada jauh di bawah Ganjar.

Inilah nantinya yang menjadi dilema Ketua Umum PDI Perjuangan, yaitu menentukan siapa yang bakalan diusung di Pilpres 2024.Memang pada dasarnya elektabilitas dan popularitas itu bukan tolak ukur ataupun patokan untuk menetukan figur yang bakalan diusung oleh partai.Namun penting untuk disadari bahwa elektabilitas dan popularitas itu bersumber dari suara mayoritas pendukung figur tersebut.Sampai saat ini, Ganjar Pranowo belum ada mendeklarasikan ataupun menyodorkan dirinya untuk jadi Capres di 2024, namun suara rakyat yang mendukungnya lah yang membuat elektabilitasnya menjadi unggul.

Belajar dari Pilpres sebelumnya, rakyat lebih dominan memilih berdasarkan figur. Bukan berdasarkan partai.Kesimpulannya, jika ini hanya bagian dari strategi PDIP untuk mengetahui kekuatan pendukung Ganjar Pranowo, maka tidak ada yang salah. Sah-sah saja.Namun sebaliknya, jika alasannya adalah karena ada ambisi kader lain yang ingin diselamatkan oleh PDIP dengan cara menggeser Ganjar Pranowo. Maka sesungguhnya PDIP telah mengambil keputusan yang keliru.Karena, meskipun PDIP mengusung lebih dari 1000 kader terbaiknya selain Ganjar Pranowo untuk jadi Capres di 2024, tapi kalau konsistensi dan dukungan rakyat terhadap Ganjar Pranowo tak berubah, PDIP bisa apa?Masih banyak jalan menuju ke Roma. Toh bukan hanya PDIP partai.Berlian itu dimanapun akan tetap menjadi berlian, sekalipun di kubangan lumpur. Dan itulah Ganjar Pranowo.

Sumber : Status Facebook Seruanhulu

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed