by

Tak Otomatis Masuk Surga

Oleh : Sahat Siagian

Gubernur Irian Jaya (1988-93) Barnabas Suebu pernah mengecam gereja yang hanya menekankan pembangunan rohani. Kehadiran gereja seharusnya membawa kesejahteraan bagi masyarakat. Katanya, “Kasihan masyarakat Papua, sudah miskin masuk neraka pulak!”

Dalam pada itu Ahok mengatakan bahwa sekaya-kayanya ia menjadi pengusaha tetap saja uangnya sangat terbatas untuk menolong orang miskin. Atas nasihat ayahnya ia masuk ke jalur politik agar berfaedah bagi banyak orang. Dengan memegang kekuasaan ia mudah menolong orang-orang miskin lewat kebijakan-kebijakannya. Saat menjadi Gubernur DKI Ahok pernah berseloroh, “Mana ada di dunia ini orang kaya menggelontorkan dana $200 juta setahun untuk orang-orang miskin? Saya melakukannya.”

Minggu ini adalah Minggu ke-16 setelah Pentakosta. Bacaan ekumenis diambil dari Lukas 16:19-31 yang didahului dengan Amos 6:1a, 4-7, Mazmur 146, dan 1Timotius 6:6-19. Teks bacaan Injil Lukas 16:19-31 saya kutipkan dan letakkan di bagian sesudah penutup.

Kalau anda jeli membaca kitab-kitab Injil berbahasa Indonesia, perikop-perikop mengenai perumpamaan oleh LAI diberi judul dengan frase awal “Perumpamaan tentang”. Namun perikop bacaan Injil Lukas 16:19-31 Minggu ini tidak diberi frase awal “Perumpamaan tentang”. Judulnya ditulis 𝘖𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘓𝘢𝘻𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘪𝘴𝘬𝘪𝘯. Implikasi judul tersebut membuat tidak sedikit orang Kristen (termasuk pendeta) mengira cerita itu adalah kisah nyata.

Dalam perumpamaan-perumpamaan Yesus tidak pernah menggunakan nama orang untuk tokoh-tokoh ceritanya. Bacaan Injil Minggu ini adalah satu-satunya perumpamaan yang menggunakan nama sehingga orang mengira cerita ini kisah nyata. Bukan itu saja, Lazarus menjadi tokoh utama dalam kisah ini.

Sebelum kita sampai pada pembahasan mengapa ada nama Lazarus dan apakah ia adalah tokoh utama, mari kita melihat genre atau ragam cerita itu di dalam Injil. Kita sudah melihat corak pembalikan: yang pertama menjadi yang terakhir, yang terakhir menjadi yang pertama; yang tinggi direndahkan, yang rendah ditinggikan; dlsb.

Corak pembalikan itu berlaku umum. Dapat terjadi pada siapa saja. Tampaknya pemberian nama “Lazarus” untuk membatasi kasus dan mencegah penyimpulan bahwa orang miskin otomatis masuk surga. Dalam kasus atau cerita perumpamaan ini yang masuk surga adalah orang miskin yang bernama Lazarus.

Di dalam kisah perumpamaan tidak ada aksi Lazarus. Ia pasif. Ia sakit dan sekarat sehingga ia hanya bisa berbaring dan tidak sanggup mengusir anjing-anjing yang menjilati boroknya (ay. 20-21). Dari sini kita dapat menetapkan bahwa Lazarus bukanlah tokoh utama cerita.

Apabila orang miskin tidak otomatis masuk surga, mengapa di dalam cerita itu orang kaya tanpa nama? Apakah itu berarti orang kaya otomatis masuk ke alam maut (ᾅδῃ – baca: 𝘩𝘢𝘥𝘦̄)?

Orang kaya dalam kisah ini berbeda dari orang kaya dalam cerita perumpamaan di Lukas 12:13-21. Dalam perumpamaan tersebut orang kaya itu bodoh dan belum lagi menikmati kekayaannya saban hari ia 𝘬𝘦𝘣𝘶𝘳𝘶 mati. Orang kaya dalam perumpamaan Minggu ini menikmati kekayaannya setiap hari. Ia pun pintar. Sudah mati saja masih bisa menyuruh-nyuruh dan berdialog dengan Abraham. Di sini sangat jelas tokoh utama cerita adalah orang kaya, bukan Lazarus.

Kalau kita membaca narasi perumpamaan Minggu ini, apa sih yang membuat orang kaya itu masuk ke “alam maut”? Apakah orang kaya itu menindas Lazarus? Tidak. Membenci? Tidak. Namun kita bisa melihat gaya penulis Injil Lukas memandang kekayaan.

Mari kita bandingkan bacaan Minggu ini dengan Lukas 12:13-21 (lihat Titik Pandang edisi 31 Juli 2022 di https://www.facebook.com/100030986591668/posts/761985944844285/ ). Persamaan perumpamaan ini adalah perihal kekayaan atau penggunaan kekayaan. Sedikit perbedaannya adalah orang kaya di Lukas 12:13-21 lebih sial, selain bodoh, karena belum sempat menikmati kekayaannya. Ia 𝘬𝘦𝘣𝘶𝘳𝘶 mati. Orang kaya di Lukas 12:13-21 itu “mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri” dan ia dinilai “tidak kaya di hadapan Allah” (ay. 21).

Dengan merujuk Lukas 12 akar kesalahan orang kaya di Lukas 16 adalah sama: “menggunakan harta bagi dirinya sendiri.” Akar kesalahan si kaya itu adalah ketidakpedulian terhadap sesamanya. 𝘛𝘩𝘦 𝘰𝘱𝘱𝘰𝘴𝘪𝘵𝘦 𝘰𝘧 𝘭𝘰𝘷𝘦 𝘪𝘴 𝘯𝘰𝘵 𝘩𝘢𝘵𝘦, 𝘪𝘵’𝘴 𝘪𝘯𝘥𝘪𝘧𝘧𝘦𝘳𝘦𝘯𝘤𝘦. Lawan kasih bukanlah kebencian, melainkan ketidakpedulian, kata Elie Wiesel. Orang kaya itu tidak membenci Lazarus yang terbaring di depan rumahnya. Ia hanya tidak peduli kepada si miskin itu, meskipun ia mengenal Lazarus (ay. 24).

Di sini kita kembali melihat ajaran Injil Lukas tentang harta dan kekayaan. Orang Kristen tidak dilarang menumpuk harta dan menjadi kaya. Orang Kristen kaya ideal menurut Injil Lukas adalah menggunakan kekayaannya untuk membantu sesamanya.

Sayangnya ajaran Injil Lukas ini dinafikan oleh 𝗟𝘂𝗸𝗮𝘀 Enembe. Sejak Pemerintahan Jokowi dana otonomi khusus (Otsus) untuk Papua terus meningkat. Tahun ini dana Otsus sebesar Rp8,5 triliun dan diimbuhi lagi dengan Dana Tambahan Infrastruktur sebanyak Rp4,37 triliun. Harusnya tidak ada alasan Papua tidak segera sejahtera. Dengan uang sebesar itu Lukas Enembe tidak peduli kepada masyarakat Papua, meskipun Ia sangat mengenal mereka. Sesudah cukup lama ia menikmati hartanya, ia masuk ke “alam maut” KPK. Tidak ada kesempatan lagi bagi Lukas Enembe untuk bertobat.

𝘘𝘶𝘰𝘵𝘦 𝘰𝘧 𝘵𝘩𝘦 𝘥𝘢𝘺: “𝘔𝘰𝘯𝘦𝘺 𝘪𝘴 𝘵𝘩𝘦 𝘣𝘦𝘴𝘵 𝘥𝘦𝘰𝘥𝘰𝘳𝘢𝘯𝘵.” Elizabeth Taylor

Wassalam,

MDS (25092022)

📸 Keira Knightley sekadar sampiran

Lampiran

𝗟𝘂𝗸𝗮𝘀 𝟭𝟲:𝟭𝟵-𝟯𝟭 (TB II LAI, 1997)

𝘖𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘓𝘢𝘻𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘪𝘴𝘬𝘪𝘯

𝟭𝟲:𝟭𝟵 “Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan.

𝟭𝟲:𝟮𝟬 Ada pula seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu,

𝟭𝟲:𝟮𝟭 dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya.

𝟭𝟲:𝟮𝟮 Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham.

Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur.

𝟭𝟲:𝟮𝟯 Sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya.

𝟭𝟲:𝟮𝟰 Lalu ia berseru, katanya: Bapak Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini.

𝟭𝟲:𝟮𝟱 Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedang Lazarus segala yang buruk. Sekarang di sini ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita.

𝟭𝟲:𝟮𝟲 Selain itu di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang.

𝟭𝟲:𝟮𝟳 Kata orang itu: Kalau demikian, aku minta kepadamu, Bapak, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku,

𝟭𝟲:𝟮𝟴 sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka jangan masuk kelak ke dalam tempat penderitaan ini.

𝟭𝟲:𝟮𝟵 Tetapi kata Abraham: Ada pada mereka kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkannya.

𝟭𝟲:𝟯𝟬 Jawab orang itu: Tidak, Bapak Abraham, tetapi jika ada seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat.

𝟭𝟲:𝟯𝟭 Kata Abraham kepadanya: Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati.”

Sumber : Status Facebook Sahat Siagian

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed