by

Ralat dan Maaf

Oleh : Ramadhan Syukur

WAKTU masih bekerja di media, kesalahan menulis sangat tidak bisa dibenarkan. Kalau sampai terjadi kesalahan, kami dengan berat hati dan merasa terpaksa harus membuat RALAT. RALAT ialah (1) pembetulan atau perbaikan atas salah cetak (pada surat kabar, majalah, buku, dsb.) atau atas salah ucap dsb. (2) kesalahan; kekeliruan (cetak, ucap, dsb.)Selama gue memimpin sebuah majalah gak sampai lima jari gue membuat RALAT karena salah memasang foto atau ada tipo yang lolos dari mata editor dan korektor.

Dan yang paling memalukan ketika terjadi salah tulis di majalah videogame gue. Kata yang seharusnya “konsol game” dua kali tercetak di halaman berbeda jadi (maaf ya) “kontol game”. Parah kan? Yeee kan. Seharian gue ketawa campur takut.Dulu sekali-sekali aja memuat RALAT kayak gitu, gue udah malu dan paniknya gak ketulungan. Terutama kesalahan kutip yang menimbulkan persepsi gak baik buat nara sumber dan pembaca.

Dan buat sebuah media, kredibilitasnya bisa rontok kalau sering-sering membuat RALAT. Editor dan redakturnya harus diganti karena gak becus. Media saat ini jangan ditanya lagi berapa banyak membuat kesalahan tulis. Kalau harus membuat RALAT, butuh halaman tersendiri.Kalau gak percaya, singgahlah ke laman facebook dosen FIB UI, Mas Ibnu Wahyudi.

Ini dosen yang menurut gue paling rajin dan gak bosen-bosennya meluruskan tulisan para jurnalis yang ngawur (dia menyebutnya dengan sopan, jenaka). Tapi sependek ingatan gue, selama bekerja di media, belum pernah gue menemukan ada media yang melakukan kesalahan penulisan yang menimbulkan bias luar biasa. Sebuah kesalahan yang gak bisa dilakukan cuma dengan RALAT, tapi terpaksa harus dilakukan dengan MEMINTA MAAF.

Di jaman Orba kesalahan yang fatal mengkritisi pemerintah, hukumannya gak cukup hanya dengan ralat atau minta maaf. Tapi dibredel. Ijin usahanya dicabut. Gak boleh lagi terbit. Kalau perlu pemimpin redaksinya dimasukin penjara. Tapi DIBREDEL buat gue jauh lebih bermartabat daripada sekedar RALAT atau MINTA MAAF. Jika medianya ditutup dan mati pun mati dengan cara terhormat. Apapun latar belakangnya, meminta maaf adalah sebuah pengakuan bahwa telah terjadi kesalahan entah dilakukan dengan sengaja atau tidak sengaja.

Dan sayangnya, itu terjadi di sebuah media yang dulu sangat terjaga kualitas dan kredibilitasnya. Media yang dulu jadi panutan banyak jurnalis baru (termasuk gue) karena diasuh oleh orang-orang kompeten. Jauh sebelum peristiwa Ade Armando, sebetulnya gue sudah lama kecewa dengan gaya dan kebijakan redaksi majalah berita ini. Kok jadi begini? Jujur gue gak percaya. Sama gak percayanya ketika gue melihat tingkah polah saudara muslim yang mendadak pada sholat di jalan, mengaji di trotoar, dan tidur di masjid.

Bahkan hari ini gue baru aja dapat kiriman video, di mana rombongan umroh Indonesia terpaksa diawasi polisi Arab. Begitu mereka mulai mau foto bareng sambil megang spanduk, langsung spanduknya dirampas dan mereka disuruh bubar. Belum ada kabar sih polisi Arab juga menemukan ada jamaah Indonesia yang sholat di jalan, ngaji di trotoar, dan tidur di masjid. Baru di sini. Dengan kejadian ini, semoga jadi pembelajaran buat TEMPO untuk gak mengulangi lagi masalah yang sama. Kalau bisa kembali lagi seperti tempo dulu.

Sumber : Status Facebook Ramadhan Syukur

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed