by

Pokoknya Arab

Oleh : Ahmad Sarwat

1. Umat Islam di Indonesia saking cintanya pada agama Islam, maka apapun yang berbau Islam langsung dibungkus dan diborong habis sama kulit-kulitnya.

2. Dalam masalah pakaian misalnya, gaya orang Arab pun ditirunya dan dianggap sebagai bagian dari peribadatan. Padahal orang Arabnya sendiri ketika mengenakannya sama sekali tidak ada niat untuk ibadah sih. Kan itu mode pakaian mereka.Tapi buat kita, sorban, gamis, ghutrah, shimagh dan atribut lainnya seakan itu ibadah ritual.

3. Dalam masalah makanan juga begitu. Nasi kebuli, biryani, mandi dan saudara-saudaranya terlanjur dianggap nasi Arab dan identik dengan hidangan dalam acara maulidan, haul dan sejenisnya. Seakan tidak sah tanpa nasi kebuli. Padahal asalnya dari India dan orang Arab di masa kenabian makan roti

.4. Dalam masalah bahasa juga sama saja. Meski tidak paham maknanya, ketika bernyanyi banyak sekali kalangan tokoh Islam yang menyanyikan lagu berlirik Arab, seperti pada qashidahan dan Gambus. Lagu Magadir misalnya, betapa amat populernya di kalangan santri, mereka begitu faseh menyanyikannya. Di berbagai acara mantenan dan hajatan menjadi lagu wajib yang diputar atau dinyanyikan secara live. Tapi kalau ditanya, apa artinya, wallahu a’lam bishshawab.

5. Kalau di masa saya awal aktif di ROHIS masa SMA dulu, trendnya adalah melantunkan nasyid Arab, baik dengan musik atau yang tanpa musik sama sekali. Liriknya arab fushah sebenarnya dan isi kandungannya bagus-bagus. Tapi lagi-lagi kami gak paham juga maknanya, yang penting bernasyid dan tampil pe-de. Namanya juga anak muda lagi berghirah.

6. Dan jangan lupa juga trend terkini yang juga melanda anak-anak muslim, yaitu budaya marawis. Rata-rata lagunya Arab semua. Mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, dan orang tua bahkan, semua mendendangkan marawis lengkap dengan syair arabnya. Paham? Ya Nggak lah. Pokoknya nyaring aja.

7. Di kalangan aktifis dakwah, istilah-istilah yang mereka gunakan pun banyak yang mengalami arabisasi. Mulai dari yang sederhana semisal ana antum, akhi-ukhti, ikhwan-akhwat, manhaj, taaruf, dan seterusnya. Lucunya anak saya ketika ujian bahasa Arab di madrasah, ditanya gurunya apa bahasa Arabnya WC, dijawab spontan : ikhwan. Lho kok ikhwan? Dia bilang pernah lihat di WC masjid tertulis ikhwan dan akhwat. WC laki itu ikhwan dan WC perempuan itu akhwat. Hehe dasar . . .

oOo

8. Namun ketika saya kuliah di Fakultas Syariah, berkenalan dengan banyak ilmu-ilmu keislaman, maka penguasaan bahasa Arab menjadi mutlak. Tidak bisa bahasa Arab berarti droped-out atau malah sama sekali tidak bisa diterima kuliah disitu. Sebab semua buku dan kitab literatur ilmu-ilmu keislaman memang berbahasa Arab. Mencari literatur dalam bahasa Indonesia justru sulit didapat.

9. Dan ketika saya mengajarkan kembali ilmu-ilmu keislaman yang saya dapat itu kepada sesama kita orang Indonesia, saya kesulitan untuk mendapatkan padanan kata yang tepat untuk setiap istilah yang baku. Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia pun jadi malah semakin tidak jelas.

10. Contoh dalam bab thaharah itu ada kajian tentang mengusap dua sepatu. Aslinya adalah AL-MASHU ‘ALAL KHUFFAIN (المسح على الخفين), diterjemahkan menjadi dua sepatu. Tidak salah sih, tapi yang dimaksud sepatu disini bukan sembarang sepatu, tetapi sepatu kulit, berlaras tinggi, sehingga mata kaki tertutup semua, tidak tembus air bila disiram atau dibuat berjalan di genangan air, serta bisa digunakan berjalan jauh hingga jarak minimal boleh mengqashar. Makanya sebutannya bukan khidza’ tapi khuff. Tapi bahasa Indonesia belum punya padanan kata yang tepat. Oleh karena itu saya lebih suka tidak menterjemahkan istilah itu, mending disebut apa adanya saja. Disini mau tidak mau arabisasinya jadi wajib. Bukan sekedar sok arab ikutan trend.

11. Istilah lain yang tidak ada padangannya adalah ‘URF. Ada saja yang menerjemahkan menjadi tradisi, tapi sering timbul salah kaprah. Sebab istilah tradisi itu identik dengan kata tradisional, seperti tarian tradisonal, makanan tradisonal, atau budaya-budaya tradisional seperti nujuh bulanin, selametan, dan seterusnya.

12. Padahal URF itu maksudnya akad-akad yang dianggap lazim dan biasa terjadi di tengah masyarakat. Misalnya, beli makan di warung itu bilangnya ‘minta nasinya’. Meski lisannya bilang minta tapi maksudnya beli. Jadi tetap harus bayar. Nah ungkapan minta nasi itu URF.

13. Sering juga kita bilangnya pinjam padahal sewa. Untuk menghormati jumlah tamu terpaksa kita pinjam tenda. Padahal akadnya sewa bukan pinjam. Itu URF.

14. Atau suami menceraikan istri, tapi ngomongnya silahkan pulang ke rumah orang tuamu. Jatuh talak kalau UFR masyarakatnya memang mengakui bahwa ungkapan itu merupakan talak.

oOo

15. Jadi dalam beberapa hal kita tidak bisa anti Arab juga. Sebab dalam ilmu-ilmu keislaman, banyak istilah Arab yang tidak punya padanan dalam bahasa Indonesia. Kalau kita nekat menerjemahkan secara sepihak, pasti yang lain komplain. Walaupun tidak harus juga sih apa-apa itu diarabkan. Karena memang terkesan jadi ke-arab-arab-an yang rada maksa. Apalagi lawan bicara kita memang bukan kalangan yang akrab dengan istilah arab, pasti dia bingung mendengarkan banyak istilah arab dari mulut kita.

16. Cuma kalau memang hobi lagu Arab, ya nggak apa-apa juga. Gambus yang terkenal itu kadang suka saya lantunkan juga. Padahal saya pun nggak paham artinya.Magadir . . . Magadir Ya Ghalbil Ala Magadir . . .Magadir Witsumbil Ala Magadir . . . (tauk itu benar apa nggak. Di kuping saya kedengerannya begitu. Artinya? meneketehe hehe)

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed