by

Pak Jokowi Memang Tidak Sempurna tapi Dia yang Terbaik

Oleh : Muhammad Nurdin

Pak Jokowi Memang Tidak Sempurna Tapi Ia yang TerbaikPolitik kadang menyuguhkan kita narasi-narasi parsial yang diframing cantik untuk menghasilkan sebuah kesimpulan yang timpang. Kita jadi luput dari gambaran besarnya. Dan yang lebih parahnya, kita diajarkan untuk bersikap tidak adil bahkan sejak dalam pikiran. dr. Terawan pernah memperkenalkan metode cuci otak untuk mengobati pasien stroke. Banyak pihak mengkritiknya. Mereka mengatakan metode tersebut takkan pernah berhasil menyembuhkan. Bahkan ia dikelurkan dari Ikatan Dokter Indonesia.

Tapi lihatlah, metode cuci otak Terawan efektif mengobati stroke. Banyak orang yang telah mendapatkan manfaat darinya.Tapi media disesaki dengan statemen-statemen kontra Terawan. Kita dijejali dengan kritik yang berusaha menggugurkan terobosan karya anak bangsa. Hingga akhirnya kita berkesimpulan bahwa Terawan itu begini dan begitu. Dan waktulah yang membuka tabir siapa sebenarnya dr. Terawan?

Seperti apa integritas dan kompetensinya? Seberapapun ia dicitrakan pincang oleh banyak pihak, emas tetaplah emas, jikapun ia masuk dalam kubangan lumpur.Politik bisa lebih kejam dari apa yang dialami oleh dr. Terawan. Karena jegal-menjegal selalu ada dalam panggung politik. Orang sudah tak peduli lagi soal moral, soal sekotor apa narasi yang dibangun. Nyatanya, kekuasaan telah banyak membutakan manusia. Hingga kebanyakan kita terus saja membangun istana prasangka yang megah.

Saya yakin Pak Jokowi tidak sempurna. Sekian banyak janji-janji politiknya pasti ada yang belum dipenuhi. Beliau pasti punya keterbatasannya sendiri. Sebab politik terlalu rumit. Ia tak seideal kehidupan kampus yang bisa nabrak sana-sini.Dan kita suka menjadi pemenuhan pepatah yang mengatakan, gajah di pelupuk mata tidak kelihatan, semut yang di seberang lautan kelihatan .Itulah yang terjadi pada sosok Jokowi. Ia memang tidak sempurna. Tapi ia yang terbaik dari yang pernah ada. Ia adalah alasan konstituen muda seperti saya yang dulu tak bergairah dengan politik, hingga akhirnya memiliki alasan untuk datang ke TPS pagi-pagi.

Apa yang disuarakan oleh beberapa BEM mungkin benar bahwa ada janji-janji politik Pak Jokowi yang belum atau tidak dipenuhi. Tapi jangan menutup mata dengan kinerja beliau membangun negeri ini. Presiden Jokowi telah membangun jalan tol sepanjang 1300 km lebih. Pencapaian ini melampaui apa yang telah dibangun oleh 5 Presiden sebelumnya dengan rentang waktu kepemimpinan selama 36 tahun, yang hanya sepanjang 821 km. Luar Pulau Jawa kini telah menikmati lintasan jalan tol yang menghubungkan banyak tempat-tempat yang dulunya sulit untuk dilalui. Ini berimbas pada arus distribusi barang dan jasa yang membuat harga-harga barang bisa pangkas.

Kita belum bicara soal pembangunan tol laut, rel kereta api, pelabuhan, bandara, bendungan, jembatan juga sebuah mega proyek yang sangat fenomenal, ya kereta cepat Jakarta-Bandung.Pembangunan infrastruktur yang masif ditambah lagi investasi yang masuk ke Indonesia berimbas pada menurunnya tingkat kemiskinan. Di tahun 2014, di masa akhir pemerintahan SBY angka kemiskinan kita berada di posisi 11, 25 %.

Dan di akhir periode pertama pemerintahan Jokowi berada di titik paling rendah dalam sejarah yakni di posisi 9,41.Hingga datanglah pandemi yang membuat angka kemiskinan naik. Tapi pemerintah terus berjuang untuk menekan kembali angka tersebut. Kalau melihat dari rekam jejaknya, Pemerintah punya komitmen kuat untuk merealisasikannya.

PR Pemerintah pasti masih banyak. Tentu banyak hal yang belum dipenuhi. Catatan ini bisa menjadi pengingat Pemerintah untuk bisa menggarapnya segera, setelah situasi dan kondisi berangsur baik dan pulih.Tidak ada masalah dengan rapor merah Pemerintah, sebab itu lumrah sebagai bahan evaluasi. Tapi jika seolah tidak ada yang dikerjakan Pemerintah, dan Pemerintah menutupi jejak-jejak kebobrokannya dengan menjadi otoriter, maka anda telah membuang gambaran besarnya, dengan menyuguhkan sedikit kelemahannya

.Anda sudah bersikap tidak adil dengan menyuguhkan sedikit bagian yang cacat untuk menyimpulkan kecacatan total. Untuk sebuah ketidakadilan hanya ada satu kata: Lawan!Pak Jokowi memang tidak sempurna, sehingga beberapa catatan merah bisa kita suguhkan sebagai pengingat. Tapi jangan menutup mata bahwa ia adalah yang terbaik dalam banyak sisi, untuk negeri ini.

Sumber : Status Facebook Muhammad Nurdin

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed