Oleh: Supriyanto Martosuwito
Jika dakwah agama menggunakan pengeras suara mendatangkan pahala, maka Allah Yang Maha Adil, Maha Pengasih dan Maha Penyayang akan melimpahkan pahala besar pada Athanasius Kircher, seorang cendekiawan dari Katolik.
Athanasius Kircher (2 Mei 1602 – 28 November 1680) adalah sarjana Yesuit Jerman abad ke-17 yang mempublikasikan sekitar 40 tulisan, kebanyakan dalam bidang orientalisme, geologi dan kedokteran. Beliau juga penemu dan pencipta megafon pertama.
Selain Pastur Kitcher pahala dari pengeras suara akan dikaruniakan oleh Allah kepada Tsunetaro Nakatani, pendiri Toa Corporatopm 1949 di Tokyo, Jepang. Sebab dialah yang memproduksi secara massal pengeras dengan merk Toa itu dan menjualnya di sini.
Megafon TOA diproduksi oleh TOA Corporation yang didirikan di Kota Kobe, Jepang.
Perusahaan ini mengembangkan teknik mengubah gelombang suara menjadi tegangan listrik yang kemudian diubah lagi menjadi gelombang suara yang diperkuat melalui speaker.
Penamaan TOA ini lebih populer dibandingkan Megafon.
Sejarah mencatat, penemuan Megafon pertama kali dalam sejarah manusia adalah pada abad ke 17 di tahun 1.600-an oleh Athanasius Kircher seorang Rohaniwan Katolik Jesuit Jerman.
Selain seorang pastor, Athanasius Kircher juga seorang ilmuwan.
Athanasius Kircher juga dikenal sebagai seorang penerjemah hieroglif terkenal pada zamannya.
Di Indonesia, pengeras suara diimpor dan didistribusikan oleh perusahan patungan PT Industri Toa Galva Toa. Perusahaan ini dirintis dan didirikan oleh Uripto Wijaya, pengusaha elektronik asal Bangka (kelahiran 1924) yang dikenal sebagai Wali Penghubung Yayasan Badan Pendidikan Kristen (BPK) Penabur, Sekolah Kristen Tionghoa yang dirintis oleh orang Belanda.
Pengeras suara yang menjadi bagian dari perangkat mushala dan masjid di Indonesia adalah teknologi yang ditemukan oleh pastor Katolik, dikembangkan oleh perusahan Jepang dan diimpor dan diedarkan di sini oleh pengusaha beragama Kristen, pemimpin Badan Pendidikan Kristen dan dijadikan sarana syiar Islam di Indonesia.
Kini pengaturan volume suaranya ditolak dan dibela mati mati matian keberadaannya oleh kaum Islam puritan dan militan. ***
(Sumber: Facebook Supriyanto M)











Comment