by

NU Masuk ke Pedalaman Papua

Oleh : Agus Setyabudi

29 Juni kemarin, saya dapat kiriman poto ini dari seseorang yang sangat saya hormati. Poto sebuah penggalan dari sebuah Majalah Islami yang cukup keren yang terbit pada bulan Juli 2021. Betapa senangnya saya, ternyata sedikit ikhtiyar terhadap masyarakat muslim asli Papua, tepatnya suku Kokoda di Kurwato, bisa terekspos lebih luas. Harapan saya, dengan adanya pemberitaan tersebut, semoga lebih banyak pihak-pihak yang berkenan untuk ikut turun gunung dan “nyengkuyung” bareng-bareng sehingga bisa merubah hal yang terasa berat menjadi ringan.

Namun, ada sedikit kekurang validan data dalam satu paragraf di tulisan tersebut. Secara keseluruhan, kekeliruan data tersebut memang tidak menciderai substansi dari tulisan tersebut. Namun secara pribadi, saya merasa perlu untuk meluruskannya supaya tulisan itu nir-kesalahan data.

Satu paragraf dalam tulisan tersebut yang perlu saya luruskan yaitu “Untuk mendukung perkembangan Islam Aswaja di Papua Barat, pengurus PCNU Sorong dan para pendakwah yang dikirim ke Sorong, bekerjasama mengirimkan 2 anak asli Papua untuk menerima pendidikan Pondok Pesantren di Sarang, Rembang.”Kekeliruan data yang saya maksud yaitu, bahwa dalam pengiriman 2 anak asli Papua ke Jawa, tidak ada kerjasama apapun dengan PCNU seperti yang disebutkan dalam tulisan itu. Pengiriman ke-2 anak tersebut dilakukan oleh PPM Aswaja.

Dan pondok yang dititipi oleh PPM Aswaja bukan pondok di Sarang, Rembang. Melainkan di pondok Leteh, Rembang.Saya memberanikan diri untuk menuliskan ini karena dua alasan. Pertama, biar unek-unek keluar dan hati ini plong. Kedua, karena komplain saya terhadap pihak majalah tidak ditanggapi. Sekedar maaf pun, tidak. Dan itu saya nilai sebagai kecongkakan dalam jurnalistik. Dan semoga majalah yang sudah lama menjadi semacam oase di gurun sahara itu bisa lebih teliti sehingga kredibilitasnya dalam segala tulisan bisa dipercaya oleh pembacanya.

Dan juga bisa legowo menerima kritik-saran dari mereka yang lebih paham daripada para kuli tintanya. Akhirnya, apa dunia wartawan seperti agamawan? Yang tambah tahun kualitasnya pasti menurun?

Sumber : Status Facebook Agus Setyabudi

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed