by

Nadiem dan India

Memang, GDP saja tak cukup mampu mengukur kinerja ekonomi sebuah negara, karena GDP lebih ke akumulasi pendapatan yang dihasilkan oleh seluruh penduduk. Semakin besar populasi, akumulasi GDP akan semakin besar juga. Karena US, China, India adalah negara berpopulasi besar, maka GDPnya juga berbanding lurus. Namun, yang menarik adalah kemampuannya berlomba dan mempercepat diri dari tahun ke tahun terutama sejak 2003 (significant leap). Pertumbuhannya mencapai 6-7% di saat dunia sedang slowing down, sehingga jika dilihat pada gambar 4, grafiknya naik terus secara exponensial.

Padahal, India adalah negara yang tadinya dilabeli dengan banyak orang miskinnya. Media ntah kenapa menggambarkan India sebagai negara yang sarat dengan sesaknya transportasi oleh orang-orang berkain panjang, dekil, kotor, dan memprihatinkan, dan kerjanya cuma nyanyi-nyanyi dan nari-nari. Underestimated. Tahu-tahu, India sudah mulai ekspansi besar-besaran dalam memajukan ekonominya, menyusul China, sebagai pemain yang patut diperhitungkan dari South Asia.

India merdeka hampir berdekatan dengan Indonesia, 1947 yang artinya, sama-sama muda dalam menata diri. India juga punya sifat jelek seperti Indonesia, yang terkenal dengan korupsi dan administrasi-birokrasinya berbelit-belit. (dan biaya penyelenggaraan pernikahannya sama-sama boros, hahaha)

Indonesia dan India juga adalah negara yang tadinya sangat bergantung pada pertanian, yang kita tahu, nilainya rendah karena bukan produk olahan yang bernilai tambah. Lebih parah lagi, sebenarnya, India masih berangkat tertatih-tatih dari kebudayaan “primitive” yang menganut kasta, yang secara psikologis “menganggu” mental orang untuk maju, dari generasi ke generasi.

Tapi kenapa India kini berlari sangat cepat, melampaui Indonesia, dari sisi ekonominya?

Nah ini yang menarik.
Pertama, India punya kemampuan dalam berbahasa Inggris (sebagai ex jajahan britania raya). Hal itu membuat mereka lebih mampu menyerap informasi dan ilmu pengetahuan dari luar, terutama negara-negara maju, yang umumnya berbahasa Inggris. Demografisnya yang padat karya dan diupah murah namun mampu berbahasa Inggris itu, membuat mereka salah satu negara yang dipakai perusahan-perusahaan untuk outsourse bisnis processnya. Kontribusinya bagi PDB lumayan besar. Kalau begini, bukan hanya ilmu, lowongan pekerjaan, teknologi pun mengalir deras ke dalam negeri.

Kemampuan itu juga mempermudah mereka ketika berimigrasi dan bekerja di negara-negara maju. Apalagi dilatarbelakangi kemiskinan, kekakuan, dan keterbatasan di negara asal yang membuat mereka “gerah” ingin segera merantau. Tengoklah kini, para dokter, engineer, bintang film bahkan sastrawan dunia banyak yg asli India. Bahkan Silicon Valley, sarangnya para coder-coder jenius dunia, didominasi imigran asal India. (India pun digadang-gadang jadi the next Silicon Valley).

Kedua, mereka telah mengubah focus yang tadinya pertanian menjadi services, sebagai sumber GDP terbesar. Dan sector services yang kontribusinya menyumbang paling besar selain finansial dan retailnya nya adalah IT. India sudah focus pada pengembangan skill hingga infastruktur IT sejak tahun 2000 (bersamaan dengan internet bubble). Kini, entah berapa banyak para programmer yang berserakan di dunia berkebangsaan India. Entah berapa banyak startup dan fintech yang diinisiasi oleh orang India.

***
IT memang memegang peran yang besar saat ini. IT lah yang berperan dalam spesialisasi, low cost production, keterbukaan pada informasi dan kemmapuan mneyerap bahasa asing baru. Dengan teknologi, jauh lebih banyak ouput yang saat ini dibandingkan dasawarsa sebelumnya. 

Perubahan ekonomi-bisnis semakin rapid dan massif, yang (kebetulan) pula dibarengi dengan preferensi consumer yang saat ini didominasi oleh gen millennials ke atas jauh berbeda dengan generasi pendahulunya, tak akan terkejar kalau masih belum dibarengi dengan penguasaan teknologinya. Ini pulalah yang menjadi misi Jokowi ketika mendirikan Markas Avenger di Papua, sebagai pusat pendidikan dan teknologi. 

Indonesia, seharusnya bisa seperti India. Namun, saya pikir, masih tertinggal dibandingkan India dalam mengejar penguasaan dan pemerataan IT nya. Dan untuk bergerak ke sana, memang agak sulit. Kita, selaiknya manusia pada umumnya, cenderung resisten pada perubahan. Tak usah jauh-jauh. Ada berapa di antara kita yang lihai menggunakan smartphone untuk berWA dan somed, sementara tak bisa menyalakan PC atau laptop? (Padahal sudah sejak kapan PC/Laptop masuk ke Indonesia?) Ada berapa yang punya account bank tapi belum punya mbanking? Ada berapa yang tertawa ketika persembahan di gereja bisa dilakukan dengan scan QR gopay? hahahah. Utilisasinya pun masih lebih kepada pleasure, belum kepada sesuatu yang memberikan manfaat dan nilai tambah pada pengembangan diri, apalagi pada pertumbuhan ekonomi. 

Mengubah orang menjadi familiar dengan teknologi memang butuh waktu lama. Karena teknologi, bukan hanya mengubah yang tadinya manual menjadi automasi. Lebih dari itu. Teknologi mengubah behavior, budaya, hingga paradigm. Ya sampai sekarang, buktinya, masih banyak yang beranggapan bahwa generasi dlu lebih rajin dan pekerja keras dibandingkan generasi saat ini. Seolah2 yang mencangkul, mencucui baju dengan tangan, yang kerja pulang lembur, masih lebih rajin dibandingkan yang lebih santai. Padahal, jika outputnya dibandingkan, sangat jauh.

Butuh waktu lama. Saya kira tadinya begitu. Tapi Nadiem, adalah salah satu orang yang hanya beberapa tahun saja memaksa orang Indonesia untuk mulai membuka diri untuk teknologi, sampai-sampai pedagang di pasar yang mungkin hanya lulusan SD sudah bisa scan QR code. Sebuah pencapaian yang jujur, tak bisa dilakukan perbankan nasional kita.

Agar penguasaan teknologi semakin cepat dan merata, teknologi harus dikenalkan lebih luas dan sedini mungkin. Bagai mana caranya? Kenalkan lewat pendidikan. Butuh eksekutor handal dan didiplin untuk itu. Tak cukup hanya konseptor. 

Nadiem rasanya tepat. 

*hasil brainstorming dengan hasian, Yanwar
**referensi disertakan dalam versi blog: https://www.cyyssy.com/…/10/nadiem-makarim-jadi-mendikbud.h… 

 

(Sumber: Facebook Shara Santa Yoléne Tobing)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed