Oleh: Erizeli Bandaro
Gelar Sarjana, jabatan, status sosial, pakaian yang kita kenakan, kendaraan, rumah, dan lain atribut itu adalah cover saja. Bukan tentang kesejatian kita. Tetapi tentang kita sebagai produk sosial, yang mau engga mau harus dinilai secara status sosial kita. Mau gimana lagi. Kalau mau jujur, tidak ada orang yang hidup nyaman dengan status itu. Tidak sarjana merasa inferior. Bertitel, merasa besar sendiri, terbebani. Kaya atau punya jabatan, merasa pantas terhormat dan dihargai. Kawatir harta berkurang dan jabatan melayang. Miskin, merasa terintimidasi. Begitulah.
Ya namanya makhluk sosial, kita tidak bisa menghindari itu semua. Namun sebagai manusia selalu ada pilihan untuk berdamai dengan kenyataan tanpa kehilangan kesejatian kita. Masalahnya, tidak semua orang bisa menerima itu. Satu satunya yang bisa menerima kita adalah sahabat. Dia tidak peduli atribut itu semua. Dia hanya melihat kita apa adanya. Apa yang menurut kita nyaman. Itu bisa dia terima.
Mungkin dia tahu kita bertitel, tetapi dia tidak peduli walau kita tidak tampil terpelajar. Mungkin dia tahu, kita berharta. Tetapi dia tidak peduli walau kita bersehaja. Mungkin dia tahu kita punya jabatan, tetapi dia tidak peduli jabatan kita.
Menilai sahabat itu tidak dengan apa yang diperbuat dan katakan. Tetapi soal sikap. Ketika tidak ada kata kata yang mampu disampaikan, hatilah yang bicara. Saat itulah maklum diperbanyak dan berusaha mengerti. “ Semoga kamu baik baik saja.”. Mengapa ? karena kita bersahabat, tidak untuk mengubah orang lain, tetapi berusaha mengerti dia, dan mendapatkan hikmah satu sama lain. Terus bergandengan tangan.
Saya punya teman lintas bangsa, lintas agama, lintas strata sosial, lintas suku, namun punya sahabat hanya hitungan jari saja. Memang persahabatan itu diuji oleh waktu. Tidak ada patokannya berapa lama. Bisa saja waktu singkat kenalan terpatri kuat menjadi sahabat. Bisa saja setelah sekian lama bersahabat, karena satu hal, terjadi jeopadis. Hancur semua yang dibangun bertahun tahun. Bagaimanapun sahabat itu adalah tanggung jawab yang indah, memahaminya tidak mudah.
“Terus kenapa waktu pulang haji, kita pakai jalur diplomatik. Pesawat gratis, dan diantar oleh petugas konsulat sampai di Jeddah. Pas sampai di jakarta, bagasi kita diurus sama pampres? Kenapa ?Tanya istri seraya mengerutkan kening. Saya diam saja. Karena sebelumnya istri saya hanya tahu saya pria yang tidak pernah sukses dalam arti sesungguhnya. Hanya tamatan SMU.
“Saya tahu semua tentang kamu, Walau tidak pernah kamu ucapkan dan ungkapkan, tetapi saya tetap mencintai kamu.”Kata istri saya. Itulah istri, yang jadi sahabat sejati saya. Bersama saya lebih 35 tahun, kami menua bersama sebagai sahabat.
(Sumber: Facebook DDB)











Comment