Oleh: Supriyanto Martosuwito
Saat saya menyebut “orang kaya berkewajiban membantu orang miskin”, sebenarnya itu bukan pendapat saya pribadi. Melainkan pendapat Andrew Carnegie. Dia seorang ‘Crazy Rich’ – salah satu orang terkaya di Amerika – konon bahkan termasuk orang terkaya yang pernah ada, di planet bumi ini.
Andrew Carnegie (1835-1919) adalah industrialis Amerika Latin yang memimpin ekspansi besar-besaran dalam bidang industri baja di Amerika pada akhir abad ke-19. Dia, pengusaha berdarah Skotlandia – Amerika, yang menjadi inspirasi dalam laku kedermawanan dan menjadi pelopor filantropis Amerika Serikat dan Inggris.
Pada usia 35, Carnegie memutuskan untuk membatasi kekayaan pribadinya dan menyumbangkan kelebihannya untuk tujuan yang baik. Diamalkan.
Setelah menjalani hidupnya dengan cara agar orang miskin dapat memperoleh manfaat dari kekayaannya – Andrew membagikan idenya kepada publik.
Pada tahun 1889 dia menulis sebuah esai, bertajuk “The Gospel of Wealth”, yang menguraikan pandangannya bahwa orang-orang dengan kekayaan besar harus bertanggung jawab secara sosial dan menggunakan aset mereka untuk membantu orang lain.
Andrew menyatakan orang-orang kaya wajib mengembalikan uangnya kepada masyarakat. Cara terbaik untuk menghadapi fenomena baru ketidaksetaraan kekayaan adalah agar orang kaya memanfaatkan kelebihan mereka dengan cara yang bertanggung jawab dan bijaksana.
“The Gospel of Wealth” diterbitkan di ‘North American Review’, sebuah majalah opini untuk pendirian Amerika.
Esai Andrew Carnegie itu – yang diterbitkan sebagai buku di tahun 1900 dengan judul yang sama – menggambarkan kepedulian seorang pengusaha yang sukses secara progresif dengan memberikan pembenaran sosial-ekonomi yang paling berpengaruh bagi filantropi kapitalis Amerika.
‘Gospel of Wealth’ atau ‘Injil Kekayaan’ menggambarkan tanggung jawab filantropi oleh kelas atas baru dari mereka yang kaya raya berkat kerjakerasnya sendiri.
Dia bertekad untuk dikenang karena perbuatan baiknya daripada kekayaannya. Ia menjadi seorang filantropis “radikal”.
Filantropi adalah kedermawanan jangka panjang dan berkelanjutan dan berdampak luas, terorganisir dan terukur, yang diberikan oleh pribadi, yayasan, lembaga, organisasi, perusahaan independen. (Philanthropy = menyayangi sesama).
Andrew Carnegie berpendapat bahwa kelebihan kekayaan seharusnya dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya – yaitu menghasilkan manfaat bersih terbesar bagi masyarakat – ketika dikelola dengan hati-hati oleh orang kaya.
Carnegie menentang penggunaan modal yang boros, pengeluaran yang tidak bertanggung jawab, atau pemanjaan diri. Orang orang kaya harus mengelola kekayaan mereka secara bertanggung jawab dan tidak dengan cara yang mendorong “yang malas, yang mabuk, yang tidak layak”.
Orang-orang kaya harus melepas prinsip dasar ilmu ekonomi untuk sampai ke taraf filantrofis. Memberi tanpa pamrih, tanpa ekspekstasi pada profit dalam wilayah ‘belief system’ – mencakup ke dalam dogma dan metafisika.
Pendekatan ini dikontraskan dengan warisan tradisional, di mana kekayaan diturunkan kepada ahli waris, dan bentuk-bentuk lain dari warisan, dimana kekayaan mereka diserahkan kepada negara untuk kepentingan umum.
Filsuf Tiongkok Lao-tse pada 600 SM, sebenarnya sudah mengingatkan, “Jika ingin mengambil, Anda harus memberi lebih dulu”. Itulah awal mula kecerdasan sosial – yang menjadi sulit dipahami dalam pakem rasional.
Juga tidak dibicarakan dalam ilmu ekonomi mana pun. Tidak ada dalam kredo Adam Smith, tidak tertulis dalam buku politik ekonomi David Ricardo, atau teori moneter Irving Fisher dan John M. Keynes.
Andrew Carnegie bahkan membalikkan cara berpikir Adam Smith, ‘Bapak Ekonomi’ yang satu puak dengannya.
Adam Smith menulis ‘The Wealth of Nation’ yang berpaku pada kekuatan kapital untuk menghasilkan pelipatgandaan profit. Sedangkan Andrew datang dengan ‘The Gospel of Wealth’, berupa pengurasan kekayaan pribadi demi kehidupan.
Memberi bagi Andrew tidak sekadar merogoh kocek atau gugur kewajiban, sehingga ia lebih fokus pada pendidikan dan keadilan. Seperti pameo klasik, beri pancingnya bukan ikannya.
Andrew tidak hanya berteori dan berucap, ia mempraktikan dan mewujudkannya.
Pada 1911, sebanyak 90 persen kekayaannya disumbangkan lewat Carnegie Corporation untuk membantu perguruan tinggi, sejumlah sekolah, dan lembaga peradilan.
Andrew pun membangun 2.000 perpustakaan di seluruh dunia. Konon di atas muka bumi modern ini, belum ada yang menandinginya.
Andrew Carnergie lah yang melahirkan para filantrofis di dunia barat saat ini – sehingga rela menyumbangkan hingga 90 atau minimal 50 persen kekayaannya bagi kemanusiaan, untuk menolong banyak orang sebagai filantropis.
Sebelum meninggal, Andrew Carnegie memberikan hampir US$350 juta (4,725 triliun) untuk kegiatan yayasan, dan universitas. Selain amal.
Dari kemurahannya muncul Warren Buffet, Bill Gates, Carlos Slim, Jeff Bezos, Steve Ballmer, Mark Zuckerberg, Larry Ellison, dan Michael Bloomberg, Henry Wellcome, Howard Hughes, John D. Rockefeller, dll.
Warren Buffet memberikan 518 triliun (USD 37 miliar), Bill Gates sudah menyumbang Rp.378 Triliun ( USD 27 miliar). Daftarnya bisa diperpanjang.
Mereka adalah murid-murid pemilik hati malaikat: Andrew Carnegie. Berderma bagi mereka telah memberikan kebahagiaan dan makna hidup yang sangat besar kepada manusia yang melakukannya.bezos,mark zyckerberg,
“Seseorang yang mati dalam keadaan kaya artinya mati dalam keadaan memalukan, “ kata Andrew Carnergie, dalam salah satu pernyataannya.
Indonesia belum punya itu. Banyak konglomerat di sini mendirikan yayasan, CSR – tapi sebagian besarnya atas nama perusahaan. Untuk pencitraan. Untuk mendapatkan potongan pajak. Kewajiban – yang bahkan BUMN (perusahaan milik negara) pun melakukannya. Atas nama kepedulian sosial.
Sedangkan yang atas nama pribadi rasanya baru segelintir saja. Bandingkan dengan mereka yang berkumpul memamerkan koleksi super carnya! Menyelenggarakan pesta pesta wah.
Aktifis medsos Denny Siregar seharusnya tidak perlu mengumpulkan donasi ketika kapal rumah sakit apung yang dioperasikan dari dr. Lie Darmawan tenggelam, beberapa waktu lalu. Uang kecil dari satu konglomerat saja sudah bisa menutupnya. Bahkan melipatkan gandakan jumlahnya ke berbagai daerah.
Nyatanya para dermawan klas Rp.100 ribu hingga 500 ribu perak yang banyak menyumbangnya. Ironinya Indonesia adalah negeri Pancasila, yang berketuhanan, berperikemanusiaan, menjunjung persatuan, dan keadilan sosial.
Para filantropis – orang orang superkaya yang sangat dermawan – adalah mereka yang sangat percaya bahwa ‘Giving Makes You Happy’.
(Sumber: Facebook Supriyanto Martosuwito)











Comment