by

Keturunan

Oleh: Ramadhan Syukur

SUATU hari abang gue ngasih secarik kertas bertuliskan huruf arab melayu. Kertas itu katanya titipan adik laki-laki ibu gue. Bentuknya sudah foto copyan. Gak tahu aslinya kayak apa dan di mana.

Setelah gue buka, ternyata kertas itu adalah “ranji” atau silsilah keluarga atawa family tree keluarga gue dari garis ibu.

Setelah gue terjemahkan dengan susah payah karena kopiannya jelek, akhirnya ketemulah nama nenek moyang gue: Putih Mayang Terurai.

Karena orang Minang memiliki suku yang diambil dari garis keturunan ibu, tahulah gue kalau ibu gue sukunya Chaniago. Dari catatan sejarah ternyata Ratu Kerajaan Pagaruyung yang disebut Bundo Kanduang juga bersuku Chaniago.

Artinya, jelek-jelek gini gue masih ada darah biru atau bangsawannya. Tapi karena darah biru hanya diturunkan ke anak perempuan, ya gue sebagai anak laki-laki gak masuk hitunganlah. Cuma kebagian pakai Chaniagonya doang. Tapi gak gue pake. Buat apaan. Yee gak?

Lain lagi dengan teman main dan sekolah gue waktu SD. Namanya Suaib Alatas. Meski sekeluarga ngaku-ngaku orang Sukabumi, tapi gak ada wajah sunda-sundanya. Bapak ibunya asli wajah Arab. Gue kenal baik keduanya.

Dulu sepanjang orang yang tinggal di Gang Sepakat Benhill tahu, keluarga Alatas ini masih keturunan Rasulullah. Habaib.

Sohib gue yang bandelnya ampun-ampunan ini, kalo gue tanya apa enaknya keturunan Nabi. Dia bilang gak tahu. Lagian katanya, dalam budaya Arab keturunan itu diurut dari garis bapak (patrilineal), bukan kayak gue orang Minang dari garis ibu (matrilineal).

Sepanjang hidupnya, Nabi Muhammad SAW pernah dikaruniai 7 orang anak, 4 perempuan dan 3 laki-laki. Tiga anak laki-laki Nabi Muhammad SAW yaitu: Anak pertama, keenam, dan ketujuh.

Anak pertama Nabi bernama Qasim bin Muhammad. Anak tertua Nabi Muhammad ini meninggal pada 605 Masehi sebelum berusia 2 tahun dan dimakamkan di Jannatul Mu’alla, Mekkah.

Anak yang ke-6 yaitu Abdullah bin Muhammad, meninggal di usia yang masih kecil, yaitu pada tahun 615 Masehi.

Anak yang ke-7 yaitu Ibrahim bin Muhammad yang lahir dari rahim istri Rasulullah SAW yang bernama Maria al Qitbiya. Ibrahim juga meninggal pada 29 Syawal 10 H saat berusia 1 tahun 10 bulan.

Jadi secara garis keturunan atau kekerabatan budaya Arab, dengan meninggalnya ketiga anak laki-laki Nabi, berarti gak ada yang bisa disebut sebagai keturunan Nabi secara vertikal. Kalau secara hozontal ya bisa-bisa aja. Keturunan melipir-melipir.

Jadi teman gue si Suaib ini gak pernah mau mengaku-ngaku sebagai keturunan Rasullullah. Begitu juga gue, gak bisa ngaku-ngaku keturunan Ratu Kerajaan Pagaruyuang. Jauuuh.
“Yang bener adalah gue keturunan Ahmad Alatas, Abah gue. Itu pasti, Dhan!” Katanya.
Dan tentu saja yang pasti gue juga keturunan Syukur Yunus, Abak gue.

Gimana dengan kehebohan bahwa AHY yang katanya masih keturunan Raja Mahapahit sekaligus memiliki darah keturunan Nabi Muhammad?

Meneketehe. Itu sih bisa-bisanya si ustad Romo Kyai Drs. M. Asyhari aja. Yang pasti AHY ya keturunannya SBY, bapaknya, presiden ke-6 dua periode yang katanya mau nyalon lagi menantang Jokowi biar bisa 3 periode.

Tapi ya demikianlah. Sebagaimana ramenya Pasar Tanah Abang pertanda mau lebaran. Ramenya mereka yang mengaku-ngaku keturunan raja atau nabi adalah PERTANDA MAU PILPRES. Fulus is the best.
Wassalam.

(Sumber: Facebook Ramadhan Syukur)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed