by

Kepada Prof Yusril dan Amien Rais

 

Di masa remaja misalnya, di kampus saya berdebat dengan Prof. Ismail Suni, Prof. Deliar Noor, Prof. Bagir Manan, Prof. Muladi dll. Bukan karena saya merasa pinter, namun karena saya berusaha membiasakan diri untuk mendebat hal-hal yang saya pikir tidak rasional atau setidaknya kurang tepat.

Prof. Yusril maupun Amin Rais saya pikir kerap berorasi jebrat-jebret tanpa mempedulikan tanggung jawab moralnya sebagai kaum terdidik atau intelektual itu. Mereka berdua seringkali merasa enteng untuk memfitnah para lawan-lawan politiknya. Karena itulah mengapa saya merasa harus segera “menginterupsi” mereka dengan cara menantangnya debat terbuka.

Selain 5 tema yang saya ajukan untuk bahan perdebatan, yakni Hukum, Sejarah, Politik, Agama dan Filsafat, saya juga mengajukan syarat untuk perdebatan terbuka ini, yakni semua peserta debat dilarang membawa smartphone, agar disela-sela debat masing-masing debator tidak bisa menyontek dengan buka-buka google, hingga semua orang bisa melihat mana pemikiran asli debator dan mana yang nyontek.

Berikutnya, agar tidak terjadi kepemihakan moderator pada peserta debat terbuka ini, saya usulkan juga agar moderatornya terdiri dari dua orang yakni Karni Ilyas dan Najwa Sihab, serta disiarkan minimal oleh dua stasiun TV, yakni Tv One dan Metro Tv secara langsung agar tidak ada penyensoran.

Terus terang saja, memperhatikan setiap pembicaraan Prof. Yusril dan Amin Rais selama ini saya jadi ragu, apakah mereka ini benar-benar profesor ataukah hanya seorang provokator. Oleh karena itu debat terbuka dengan syarat-syarat yang saya ajukan di atas akan menjadi pembuktian rasa keraguan itu yang sebenarnya benar atau atau tidak. Demikian…(SHE).

Bandung, 5 April 2018.

Saiful Huda Ems (SHE). Advokat dan penulis, serta mantan Gerilyawan Politik Pemberontak Rezim Soeharto di Berlin Jerman 1991-1995.

 

(Sumber: Facebook Saiful Huda Ems)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed