by

Kejahatan Atas Nama Agama Di Indonesia

Oleh : Tito Gatsu

□ KEKERASAN BUKAN TELADAN NABI MOHAMMAD

Ketika dihadapkan pada peradaban apalagi kemajuan teknologi saya sering berpikir apakah hukum agama yang dipercaya turun dari perintah Tuhan atau wahyu Illahi? Saya bukanlah seorang atheis tapi saya termasuk orang yang percaya Tuhan dan kenabian Mohammad tapi saya selalu berpikir bahwa aturan agama tetap mengikuti peradaban manusia oleh karenanya saya merasa nyaman menjadi warga NU atau Islam Nusantara atau Ahlus sunah wal jama’ah dan berprinsip kepada akhlaqul kharimah.

□ ISLAM NUSANTARA MEGUTAMAKAN KEMANUSIAAN

Jadi sejarah revolusi islam Nusantara sudah dilakukan sebelum agama Kristen meninggalkan kekerasan (tragedi Holloclaust 1900-1945), meneladani sifat Rasulullah dan tetap berpegang pada Al Qur’an dan Hadist Rasulullah , meninggalkan yang tidak sesuai dengan peradaban dan kemajuan teknologi. Seperti yang pernah diucapkan Bung Karno pada tahun 1936 :“Islam harus berani mengejar zaman, bukan seratus tahun, tetapi seribu tahun Islam ketinggalan zaman. Kalau Islam tidak cukup kemampuannya buat mengejar seribu tahun itu, niscaya ia akan tetap hina dan mesum. Bukan kembali pada Islam glory yang dulu, bukan kembali pada ‘zaman khalifah’, tetapi lari ke muka, lari mengejar zaman. Itulah satu-satunya jalan buat menjadi gilang gemilang kembali. Kenapa toh kita selamanya dapat ajaran, bahwa harus mengkopi ‘zaman khalifah’ yang dulu-dulu? Sekarang toh tahun 1936 dan bukan 700 atau 800 atau 900?”.

□ KEJAHATAN ATAS NAMA AGAMA ADALAH CERMINAN PERILAKU PRIMITIF

Jika kita lihat secara kemanusiaan kejahatan atas nama agama merupakan fakta sehari-hari yang terjadi di seluruh dunia kita sementara jutaan orang tidak menyadarinya. Kejahatan agama sudah ada sejak zaman kuno dan telah menjadi masalah global sejak umat manusia dapat mengingatnya. Artinya kejahatan atas nama agama adalah cerminan perilaku primitif dan cerminan kebodohan umat manusia. Untungnya, sudah banyak negara yang membuka diri dan mengutamakan kemanusiaan lebih dari agama Namun, yang lain adalah penyebab penganiayaan ini karena fakta bahwa pemerintah dalam negara tersebut tidak memiliki sistem peradilan yang melindungi kejahatan terhadap agama ini. Malahan ada pula yang melindunginya bahkan menjadikannya sebagai hukum.

□ KEBUTUHAN UNTUK MEMERINTAH UNTUK MENIMBULKAN KETAKUTAN IMAJINER.

Sentimen agama di Indonesia benar- benar dilakukan oleh elit politik karena mereka memang mempertahankan sentimen ini untuk melakukan rekayasa sosial atau sosial engineering bahkan sudah dibuat UU Penistaan Agama yang fungsinya sangat sumir, bagaimana sebuah Undang- undang membenarkan kekerasan tapi menolak untuk disalahkan , kira -kira seperti Itulah UU yang dibuat untuk menekan kaum minoritas bahkan menekan kaum mayoritas yang ingin membantu minoritas padahal Indonesia adalah negara demokrasi dimana setiap warganya mempunyai hak yang sama. Menganalisis awal peradaban manusia, kita menemukan dua faktor yang selalu berperan. Kedua faktor tersebut adalah kriminalitas dan agama. Manusia, seperti yang dapat kita ingat, harus merasa bahwa ia memiliki kekuatan untuk memerintah tanpa rasa takut. Itulah sebabnya ketika sekelompok orang memutuskan untuk mengesampingkan kepercayaan dan mengikuti agama atau dewa mereka sendiri, konflik muncul secepat bom yang meledak. Oleh karena itu, saat ini kita memiliki begitu banyak kejahatan yang berkaitan dengan agama karena beberapa manusia menentang orang lain yang memiliki sudut pandang berbeda. Manusia merasa perlu untuk diterima dan ketika itu tidak dapat dicapai, mereka melakukan pengukuran ekstrem untuk mencapai tujuan mereka dengan rekayasa sosial melalui agama.

□ KEJAHATAN ATAS NAMA AGAMA DI INDONESIA SUDAH SEDEMIKIAN MASIF

Baru saja kita melihat seorang politisi mengedit video tentang Adzan dari mentri agama dan membuat narasi memecah belah bangsa yang diterima sebagai pesan perang untuk menjatuhkan pemerintah kader mereka diseluruh Indonesia termasuk para Ulama abal-abal. Semua hal yang menyangkut kejahatan agama di Indonesia sudah demikian masif dan berulangkali digunakan oleh para bajingan politik! Oleh karenanya lawan setiap fitnah atas nama agama , berpikir cerdas cukup agama sebagai sarana untuk memperbaiki diri dengan memuliakan manusia dan memperbaiki akhlak bahkan untuk membela nasionalisme , Hubbul Wathan Minal Iman. Semoga Pemerintah dan masyarakat lebih mengutamakan kemanusiaan dan tetap berpegang kepada Pancasila sehingga akan terwujud Indonesia baldatun thayyibatun wa rabbun ghafûr , sebuah Negri yang damai dan penduduknya harmonis selalu penuh Rasa syukur kepada Tuhan. Salam Kedaulatan Rakyat

Sumber : Status Facebook Tito Gatsu

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed