by

Jangan Menyerah

Oleh : Harun Iskandar

Ada ‘sesuatu’ yang baik, diberikan dengan ‘maksud’ Baik, tapi belum tentu ‘diterima’ dengan baik. Kadang malah yang memberi dipisuhi . . .

Saya ini jarang, kalau ndak boleh disebut ndak pernah, memberi ‘nasehat’. Bukan saya ndak ‘mampu’ tapi ndak mau. Pertama, apa saya sudah cukup ‘maqam’ dan ilmu untuk layak memberi nasehat. Dan yang kedua, mampu ndak saya laksanakan apa2 yang saya nasehatkan. Jadi, misal saya menjenguk teman yang sakit, atau ‘kêpatèn’, ada keluarga meninggal, lalu saya sambil ngelus atau tepuk2 pundaknya nasehatkan, ‘Yang sabar ya . . .’Ndak berani saya, khawatir kalau besok2 berlaku pada saya, dan saya ndak kuat menanggung beban sedihnya. Nangis nggluntung2. Nanti di’weleh’kan, nasehat saya yang dulu2 dikembalikan. ‘Halah ! Kalau nasehati orang saja andus ! Sabar, sabar !’ Cuma pinter beri nasehat . . .

Nasehat bisa juga saya berikan, jika diminta. Dan bersifat ‘teknis’ bukan ‘perasaan’.Misal, ada teman yang ada urusan penting diluar, tapi sedang hujan deras. Tanya pada saya, ‘Bagaimana ini ?! ‘Saya mesti jawab, ‘Pakai payung, lebih baik lagi pakai jas hujan,’ Bersifat teknis. Bukan dengan njawab, ‘Bersabarlah. Hujan itu sesungguhnya adalah berkah. Mungkin Tuhan ada maksud lain yang kita ndak ngerti . . .’Mesti teman saya njawab, ‘Glodhaaakkk . . . !’

Lewat jalan Transyogi Cibubur, saya melihat seorang Bapak nyebrang jalan yang sibuk. Tangan kanannya menggandeng anak perempuan kecil berjilbab. Mungkin usia 4 tahun. Usia play-grup. Si Bapak sendiri berpakaian ala ‘Badut’ atau apa, tangan yang kiri nenteng kepala boneka besar. Nantinya akan dipakai berpasangan dengan busananya. Matching .Bisa bayangkan ndak betapa memelas. Si Anak nanti, tentu nunggu di jalur hijau tengah jalan kepanasan. Sementara Bapaknya nunggu belas-kasihan, para pengemudi kendaraan yang lalu-lalang. Beri sedikit uang receh. Untuk makan siang mereka berdua, sukur2 makan malam. Apalagi ada sedikit lebih untuk dikirim ke kampung atau bayar kontrakan . . .Hujan kehujanan, panas kepanasan . . .

Lalu saya turun dari mobil ‘mewah’ saya, Toyota Vellfire. Sepatu tertempel merk ternama. Demikian juga kaos oblong saya di dada ada merknya. Celana jins yang bukan ‘tembakan’. Pakai topi seharga puluhan kilo beras punel. Saya sodorkan uang Lima Puluh atau Seratus Ribu. Sodaqoh. Tapi sambil beri nasehat, “Yang sabar, ya Pak,” Lalu nyanyi lagunya d’Masih,”Jangan menyerah, jangan menyerah . . .”

Pantes ndak ? Saya duga, si Bapak tadi sambil nerima duit, akan balas ‘nyanyian’ saya. “Glodhaaakkkk . . . !

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed