Oleh : Ahmad Sarwat
Ribut-ribut pindah ibukota, saya malah berpikir out of the box. Kenapa pindahnya nggak ke alam Metaverse saja?Metaverse? Makanan apa itu? Males menjelaskan panjang lebar, gimana kalau Googling sendiri saja. Ya, pandemi 2 tahunan ini telah memaksa kita hidup sesuai zamannya, zaman alam maya dan next level . . . alam metaverse. Intinya, di alam Metaverse itu kita tidak perlu ribut urusan sengketa tanah dan lahan. Sebab luasnya seperti luas langit dan bumi. Tidak ada sengketa lahan.
Secara fisik kita masih berada di rumah sendiri, masih pakai kolor, tapi secara Metaverse mungkin kita lagi di kantor rapat bersama komisaris dan pemilik saham. Mirip-mirip nge-zoom di zaman kita, tapi jauh lebih realistis. Karena ini alam Metaverse yang dibikin serealistis mungkin. Sebuah kota dengan polulasi padat dalam peradaban dalam versi digital. Semua dibangun lewat algoritme unik. Hehe jangan pada terlalu serius baca tulisan saya ini. Mungkin saya sajs yang kebanyakan nonton film sains fiksi, itu harus saya akui.
Namun pada akhirnya masa itu pasti akan segera kita masuki. Apa-apa yang kemarin masih dianggap hayal, hari ini sudah nyata.
oOo
Apa yang saya ceritakan tentang Metaverse mungkin akan ditentang oleh kalangan pembenci teknologi. Saya menjuluki mereka sebagai suku-suku terasing (baca:orang kolot) yang tidak bisa move-on, tidak melek teknologi dan hanya menunggu punah terlindas zaman. Wow sadis juga ya. Di zaman semaju ini harus kita akui bahwa masih ada disana-sini kelompok manusia dengan sisa-sisa peradaban zaman klasik. Itu fakta dan nyata. Tapi mungkin bagusnya jangan dimusuhii. Akan lebih logis kalau kita bangun lembaga konservasi khusus. Mereka dimasukkan ke suatu wilayah cagar budaya untuk dilestarikan. Minimal sebagai kenang-kenangan dan objek penelitian sejarah budaya.
oOo
Saya sempat terpikir kenapa kita tidak membangun moseum sejarah yang menggambarkan hubungan manusia dengan teknologi di zamannya. Nantinya anak-anak SD bisa diajak berkunjung ke moseum itu. Mereka jadi kenal dengan peradaban yang sudah punah, lewat benda-benda teknologi yang ada di masing-masing dasawarsa.Saya membayangkan, moseum itu akan terbagi sektornya, ada teknologi tahun 1960-an, 1970-an, 1980-an, 1990-an dan 2000-an. Di dalamnya anak-anak akan terbengong-bengong melihat benda bersejarah aneh-aneh.
Ada mesin ketik, pager, telepon umum, faksimil, telepon genggam segede gaban, disket, kaset lagu, kaset video, VCD, walkman, tv hitam putih, radio transistor, piringan hitam, tape recorder, segulung film negativ yang belum dicuci, game watch, Nokia pisang, setrika arang, dan lainnya.
Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat











Comment