by

Ini Lemahnya Kesaksian Jaswar Koto

Kekurangan data DPT itu tentu ada, karena basis data penduduk kita juga tidak sempurna, tetapi kalau disebut siluman, ini tidaklah ada landasan buktinya.

2. Ia tampak tidak paham tentang mekanisme rekapitulasi manual berjenjang yang dijadikan patokan resmi penghitungan suara KPU.

Menganalisa tuduhan “kecacatan Pemilu” dari data Situng, tentu saja mengabaikan proses bagaimana rekapitulasi berjenjang dilakukan. Ia tampak tidak memahami bahwa proses rekapitulasi berjenjang mulai dari tingkat, Kecamatan, Kabupaten, Provinsi, dan Pusat, itu mengundang semua saksi dari kontestan dan partai. Sidang rekapitulasi ini sifatnya terbuka, hasilnya pun terbuka untuk publik.

3. Uniknya, justru karena melihat Real Count mirip dengan QuickCount, dan ada kesalahan input di Situng, maka itu menjadi dasar dugaan kecurigaannya.

Ia tampaknya lupa untuk menghitung secara statistik berapa persen kekeliruan entry di Situng, dan berapa besar dampaknya terhadap hasil akhir perhitungan suara.

Salah satu hakim bertanya hal ini, dan ia tak mampu memberikan jawaban pasti jumlahnya. Ia hanya bisa bicara sample, yang tentu saja hakim paham bahwa hal itu tidak bisa digeneralisasi.

Saya rasa sudah benar ketika Komisioner KPU menyebut bahwa Quick Count bisa menjadi alat kontrol bagi kredibilitas pemilu. Sehingga yang aneh itu kalau hasil RC berbeda jauh dengan QC, bukan sebaliknya.

Sayang sekali jauh-jauh dari Osaka namun tidak mampu memberikan kesaksian ahli yang meyakinkan majelis hakim.

Sumber : Status Facebook Muhammad Jawy

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed