by

Hoax dan Penegakan Hukum

Oleh : Zainal Abidin Sidik

Singapura mungkin bukan negara yang rakyatnya doyan menyebar dan mengonsumsi hoax, seperti Indonesia. Tapi ternyata oh ternyata, mereka sudah mengantisipasi hal itu dengan sangat ketat. Di bawah regulasi terbaru, penyebar hoax diwajibkan untuk mengakui bahwa mereka telah bersalah karena menyebar hoax, dan wajib menghapus dan memberi klarifikasi terkait fakta sesungguhnya dari hoax tersebut.

Jika mereka tidak patuh, ancaman hukuman senilai SGD 20.000 (hari ini kursnya IDR 10.578) dan kurungan 1 tahun bakal diterapkan. Kalau hoax yang disebarkan itu terkait pemilu, hukumannya naik jadi SGD 50.000 dan kurungan 5 tahun. Kalau mereka menggunakan bot untuk melipatgandakan hoaks, dendanya jadi SGD 100.000 dan kurungan 10 tahun. Dan kita tahu, Pemerintah Singapura tidak pernah main-main dengan regulasinya.

Hukuman juga berlaku buat platform medsos yang membiarkan hoax disebarkan. Denda untuk platform untuk setiap hoax yang tidak segera dihapus dan diklarifikasi mencapai SGD 1 juta. Saya berharap, Pemerintah Indonesia memertimbangkan bentuk hukuman yang sama kepada para pembuat dan penyebar hoaks. Soal rupiah dan lamanya kurungan bisa disesuaikan. Kalau dibiarkan, akan banyak sekali energi negatif bergentayangan di negeri ini dan kemajuan sulit kita peroleh. Richard Branson atau Jeff Bezos sudah bikin wisata ke luar angkasa, sebagian kita di Indonesia masih percaya thermogun bakal merusak sistem syaraf kalau ‘ditembakkan’ di bagian kepala.

Kalau hoax disebarkan oleh figur publik dan aparat pemerintah, hukumannya harus lebih berat lagi, karena jangkauannya lebih luas dibandingkan bila disebarkan orang biasa. Mereka seharusnya menjadi palang pintu yang menghalangi penyebaran hoax, bukan malah jadi bagian dari penyebarnya. Setujua?

Sumber : Status Facebook Zainal Abidin M Sidik

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed