by

Liberal Arts Education dan Endog Setengah Matang

Oleh : Alim

“Ya iyyalah.” Terlintas komen di benak saya membaca judul berita ini. Arus besar dunia yang kapitalistik ini memang spesialisasi, jadi wajar Liberal Arts Education bakal nggak laku, bahkan sampai tutup. Lintasan pikiran saya itu diamini oleh berita ini, bahwa mahasiswa¬≤ pada milih jurusan yang lebih jelas kerjanya seperti hukum dan kedokteran (ini yg disebut di berita lho, bukan saya).

Pragmatis banget memang. Bahkan negara yang cenderung stabil urusan perutnya pun tidak juga beralih ke integralisme dan generalisme pengetahuan. Jadi memang tantangan berat bagi idealisme integrasi pengetahuan (cum pendidikan) seperti yang diusung UIN, misalnya. Ya, memang bisa di ranah konsep intelektualnya, tapi begitu masuk pasar.. industri dan pengusaha mintanya spesialisasi, “Kamu ahli apa?”.

Meski saya ngomong soal politik, budaya, filsafat, agama atau kuliner, orang tetap menstatuskan saya sebagai dokter, mengerucut lagi ke ahli anestesi. Kalau toh si luar tembok kelas saya belajar filsafat dan spiritualitas 20 tahun (misal lho ya), orang akan undang saya di seminar untuk ngomong soal medis khususnya yg nyangkut anestesi. Tidak mungkin suruh ngomong pemikiran Kant atau Shadra atau spiritualitas India.

Endingnya, semua itu akan saya telan sendiri, sementara yang dishare dengan orang lain adalah spesialisasi saya. Dah, saya sendiri jane bingung ini ngomongin apa. Mungkin efek telur bebek setengah mateng yang barusan kuemplok. Yang jelas ini bukan sedang ngomongin liberalisme yang ada di dalam fatwa MUI.

Sumber : Status Facebook Alim

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed