by

Hidup Bersampingan dengan Covid Seperti Singapura?

Oleh : MIla Anasanti

Anehnya netizen +62. Kemarin heboh stadion Hungaria penuh, sekarang heboh ingin ngikuti jejak Singapura agar hidup berdampingan dengan covid.Ya, dari awal pandemi juga diajarkan, hidup berdampingan dengan covid itu bisa-bisa saja selama wabah terkontrol di negara kita. Rumusnya juga dari setahun lalu dikasih tau, wabah terkontrol jika angka penularan R < 1. Kita sudah beberapa tahun berdampingan dengan penyakit menular lain, kenapa penyakit lain tidak seheboh covid? Karena vaksin telah dikerjakan bertahun-tahun, angka penularan bisa ditekan.

Coba lihat berita 9 bulan yang lalu, Singapura sudah menjadi negara dengan tingkat kematian terendah, tapi kenapa baru sekarang mengumumkan akan hidup berdamai dengan covid? Butuh waktu dan kesiapan agar wabah bisa konstan terkendali. Bukan karena bosan atau pasrah dengan keadaan. Jadi semua itu butuh proses, tidak instan. Jangan pernah hasad dengan keberhasilan pihak lain jika tidak ingin bersusah payah sebagaimana yang dia lakukan.

Kenapa Singapura memiliki laju kematian covid terendah di dunia? Karena usaha mereka:

1. Tracking masif sejak awal wabah hingga sekarangTracking Singapura no 1 se-Asean : https://www.straitstimes.com/…/spores-testing-rate-is… Bandingkan tes PCR antara Singapura dan Indonesia, anda akan tercengang. Per 1000 orang di Singapura menjalani > 2000 tes PCR, artinya kalau direrata SEMUA WARGA Singapura pernah di tes PCR minimal 2x. Hingga kini total > 12 juta PCR udah dikerjakan padahal penduduknya hanya 5 jutaan. Lah negara kita? Per 1000 orang di Indonesia hanya sekitar 46 orang saja yang pernah dites PCR sekali. Jadi Singapura melakukan tes swab dengan rasio 49x lebih banyak dari negara kita.

2. Vaksinasi masal sehingga tercapai herd immunity https://ourworldindata.org/…/full-list-cumulative-total… Singapura telah memvaksin 52.1% dengan 1 dosis dan 36.1% dengan 2 dosis penduduknya, kalau ditotal > 80% masyarakatnya telah divaksin, herd immunity oleh vaksin hampir tercapai (tinggal melengkapi yang 1 dosis menjadi 2 dosis). Indonesia hanya 9.6% yang telah divaksin 1 dosis, dan 4.8% mendapat 2 dosis, kalau ditotal yang divaksin baru 14.4%, untuk mencapai 80% masihhhhhhhhhh jauhhhhhhhhhhhh.

3. Singapura menjalani lockdown jauh lebih ketat dari PSBB setidaknya 2x https://www.bloomberg.com/…/singapore-to-return-to…

4. Semua warga singapura yang positif covid > 45 tahun atau punya komorbid wajib menjalani perawatan di RS meskipun gejala ringan atau baik-baik saja : https://www.reuters.com/…/health-coronavirus-singapore… Ini untuk mencegah perburukan yang mendadak, makanya tingkat kematian sangat rendah. Lah warga kita, malah banyak yang menganggap masuk RS dicovidkan.

5. Warga Singapura itu patuh dan tidak ngeyelan kalau soal cerewet dan tidak sopan, warga +62 juaranya, mereka pasar empuk menjamurnya hoax . https://inet.detik.com/…/indonesia-negara-paling…https://www.cnnindonesia.com/…/riset-netizen-di…

***Jadi kalau ada yang menganjurkan testing masal, vaksin, lockdown, itu artinya mengajak OPTIMIS agar wabah terkendali sehingga kita bisa menikmati hasilnya, bukan malah dituduh menakut-nakuti. Gimana mau hidup berdampingan dengan virus kayak Singapura? Mereka ikhtiar habis-habisan di awal, lalu grafiknya sudah lama melandai. Sedang kita grafik terus naik, bahkan mencapai angka kasus tertinggi > 21 ribu sehari, paling tinggi dari sejak awal wabah tanpa ketahuan kapan puncaknya!

Saat Singapura lockdown, testing masal, ngebut vaksin, pada kemana saja? Kok tidak mengatakan mereka penebar ketakutan? Kenapa baru sekarang bilang jangan takut covid kayak Singapura? Ingin menikmati hasil tapi gak mau usaha?”Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” [QS. Ar-Ra’d Ayat 11].

Sumber : Status Facebook Mila Anasanti

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed