Oleh : Munawar Khalil
Orang Indonesia mengenal Kartini bukan karena pemikirannya. Tapi karena kebaya dan sanggulnya. Rata-rata yang sibuk membranding kebaya pas tiap tanggal 21 April itu pasti belum pernah membaca buku ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’. Buku ini terdiri dari kompilasi surat-surat Kartini yang ditujukan kepada teman-temannya di negeri Belanda.
Kita, masih cenderung terobsesi kepada pakaian, atau segala sesuatu yang tampak di permukaan secara tekstual. Itu karena kemampuan untuk mengobservasi suatu hal secara mendalam agak kurang. Kalo tekstual, ya kita tidak beda jauh dengan salah satu manhaj yang mempropagandakan sunnah Nabi dengan baju Pakistan atau gamis berbalut celana cingkrang, dengan jenggot, dan tanda hitam di dahi.
Para kebayaer pasti lebih tidak tahu lagi, jika Kartini juga bersurat kepada salah satu Kyai kondang dari Semarang. Dan mengkritisi kenapa Al Quran tidak diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa. Karena jika begitu menurut Kartini, apa gunanya kita membaca tidak mengetahui maknanya.Kartini itu bukan hanya role model kebaya, sanggul, dan penggerak kesetaraan gender. Ia lebih jauh dari itu. Kartini adalah humanisme peradaban Indonesia.
Sumber : Status Facebook Munawar Khalil











Comment