by

Entitas Pesantren dan Gagal Fokus Kasus Pelecehan Seksual

Oleh : Mamang Haerudin

Viral lagi kasus radupaksa oleh salah seorang pimpinan lembaga pendidikan keagamaan di Bandung. Tak tanggung, belasan remaja putri diradupaksa dan sebagian besarnya telah melahirkan. Astaghfirullah. Memang mengerikan sekali. Di tengah ramainya kecaman demi kecaman, ternyata masih banyak di antara kita yang justru gagal fokus. Malah meributkan soal Pesantren atau bukan Pesantren, Syiah atau bukan Syiah, kadrun atau bukan kadrun dan seterusnya.

Yang jelas kali ini pelakunya adalah pimpinan lembaga pendidikan keagamaan. Sebelum kasus ini viral, bukankah pelaku radupaksa juga berkali-kali dilakukan oleh pimpinan Pesantren atau lembaga pendidikan keagamaan lainnya? Jadi kita harus proporsional dalam menduduk-perkarakan suatu persoalan. Pesantren adalah satu hal, sementara pelaku radupaksa atau pelecehan seksual lainnya adalah hal lain, sekali pun ia merupakan pimpinan Pesantren atau lembaga pendidikan keagamaan lainnya (Rumah Tahfidz, Boarding School, TPQ, dlsj).

Ini kelalaian kita bersama. Sekaligus teguran bagi para orang tua, penegak hukum, tokoh agama, pemuda dan pihak-pihak lainnya. Mari kita fokus pada upaya pemulihan kejiwaan para korban, sambil terus mengawasi proses pengadilan pelaku agar segera dihukum seberat-beratnya. Terutama Pemerintah karena sampai hari ini masih banyak lengah terhadap para remaja dan pendidikan. RUU Penghapusan Kekerasan Seksual saja sampai hari ini masih saja belum disahkan. Masih banyak partai politik dan wakilnya di parlemen yang justru kontra terhadap penghapusan kekerasan seksual yang selama ini terjadi.

Atas fenomena getir ini, saya berharap agar kita tidak lagi gagal fokus terhadap kasus pelecehan seksual. Malah ribut-ribut soal agama, Ormas, aliran keagamaan dan atribut lain sejenisnya. Mari terus desak Pemerintah dan pihak-pihak terkait lainnya agar segera berbenah. Masih jelas kasus yang menimpa salah seorang mahasiswi di Jawa Timur yang mengakhiri hidupnya karena tidak tahan atas tekanan sosial dari lingkungan sekitar terdekatnya. Alih-alih mendapat pemulihan kejiwaan dan suport lainnya, korban malah mendapat tekanan dan menjadi pihak yang disumpah-serapahi. Wallaahu a’lam

Sumber : Status Facebook Mamang M Haerudin (Aa)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed