Oleh : Islah Bahrawi
Usianya baru 25 tahun, tapi keterlibatannya dalam gerakan Negara Islam Indonesia atau NII telah begitu dalam. Siapa sangka di usianya yang masih remaja, DD adalah salah satu petinggi NII di Tanah Datar, Sumatera Barat. Dia diendus oleh penegak hukum telah beberapa kali secara aktif melakukan “I’dad”, atau latihan persiapan aksi teror, bersama kelompoknya di sekitar Sawahlunto, Lembah Harau dan Payakumbuh.
Hingga akhirnya DD ditangkap akhir bulan lalu bersama 16 orang fungsionaris NII lainnya di beberapa wilayah Sumatera Barat. NII adalah sejarah yang terus berjalan. Ia sejak lama mengendap-endap di bawah permukaan dimana akar historik NII pernah mendapatkan ruang. Jawa Barat, Sumatera Barat, Banten dan Lampung adalah beberapa diantaranya.
Seperti halnya organisasi terlarang yang cukup lama melakukan hibernasi, NII menggeliat dengan menyasar generasi muda dalam rekrutmennya. Di Lampung NII bahkan bergerak dari kampus ke kampus. Di Jabar dan Sumbar mereka bergerak dari desa ke desa. NII nampaknya berusaha mencari energi baru dengan berkonsentrasi kepada gerakan masa depan.
Cita-cita negara agama adalah alat hipnotis di banyak negara dengan komposisi pemeluk agama tidak seimbang. Di India, sebagian pemeluk Hindu juga terhipnotis oleh anjuran pemimpin Hindu garis keras untuk menjadikan India sebagai negara agama. Mereka melakukan intimidasi melalui aksi teror secara sporadis terhadap kaum minoritas Muslim dan Kristen. Ini juga terjadi di Myanmar, dimana sebagian pemeluk Buddha garis keras berusaha mengusir suku Rohingya yang Muslim untuk keluar dari negara itu.
Pola NII di Indonesia juga berlaku sama. Mereka ingin menjadikan negara ini sebagai negara Islam agar semua warga negara, meski berbeda agama, bisa dikuasai dan dipaksa patuh terhadap hukum Islam. NII sebagai embrio dari seluruh organisasi teror yang ada di Indonesia hari ini, mulai mencari jati diri. Ia berusaha melebur dengan produk turunannya seperti JI dan JAD, serta berbagai komunitas korban politisasi agama yang mengalami kecewa akibat kekalahan dalam beberapa Pemilu. Politisasi agama di banyak negara memang menjadi “virus endemi” yang sulit diobati.
#antiradikalisme
#lawanpolitisasiagama
Sumber : Status Facebook Islah Bahrawi











Comment