by

Anjing, Masjid dan Orang GIla

Saya jadi ingat kasus Meliliana prempuan Tionghoa di Tj. Balai Sumut yg hrs dipenjara gara² meminta suara azan di kecilkan, rentetannya sampai patung di Vihara minta di turunkan, belum lagi akhir² ini banyak patung terpaksa dikembeni karena dianggap forno gak pakai baju.

Kembali ke prempuan dgn anjingnya yg masuk masjid, kalau dia tdk mengidap sakit kejiwaan yg agresif, siapa yg berani masuk masjid bawa anjing. Dan kalau benar dia sakit dan pernah dirawat di RS Jiwa yg skrg sdg depresi, kemudian diadukan ke polisi sementara si prempuan masih dlm perawatan polisi di RS Kramat Jati, ini yg gila jd siapa. 

Kita ini agamanya saja yg mayoritas, imannya minoritas, dikit² marah, sama gereja marah, sama anjing marah, sama orang Cina marah, sama MK marah, tapi sama orang yg jelas² membohongi malah ramah. Dikit² bela agama, bela islam, bela Tuhan. Yang berani sama agama islam itu siapa, yg berani sama Tuhan itu siapa, kok ente mau jadi satpol PP. 

Kalau sampai anjing yg masuk tadi meneteskan najis, ya tinggal dicuci saja, kok jadi seolah² masjid jd haram semua gara² dimasukin anjing, haram mana kl didalam masjid yg sekarang jumlahnya ribuan dijadikan tempat hasutan, ceramah dgn fitnah. Apa sudah lupa zaman kampanye pilkada Jakarta saat mau menjadikan yg mulia Gubernur seiman Anis Baswedan, Djarot saja shalat jumat diusir, ancaman tdk boleh di shalati muslim yg dukung Ahok, apa itu tdk lebih najis. Kalau liur anjing bisa di samak, kalau hati dan kelakuan yg ternajisi oleh akhlak, nyamaknya pakai apa, minum byklin..

Masjid di dekat rumah saya bertetangga dgn dua rumah non muslim, mereka piara anjing, nyalaknya ya kencang suaranya kedengaran ke masjid kalau shalat jumat, begitupun kami tdk mentang², kami cuma kasi tau saling menjaga, krn kami berprinsip yg mayoritas melindungi yg minoritas. Pengeras suara masjidpun kami tdk pasang diluar, kalau ramadhan kami antar roti sembari minta izin mungkin agak terganggu dgn suara tadarus dan taraweh. Dan hal itu tdk mengurangi kekhusukan kami beribadah.

Saya gak habis pikir kita ini kok pada kerasukan, suka sekali buat keributan. Urusan caci maki pilpres saja blm tuntas, sekarang musuhi prempuan dan anjing yg lagi setengah gila. Jadi ingat cerita Rasullulah yg menyuapi orang Yahudi buta, ingat Umar Bin Khatab saat menaklukkan Mesapotamia, disuruh mengambil gereja di jadikan masjid, beliau malah shalat dltangga gereja, walau akhirnya gereja disekat dua, menjadi rumah ibadah bersama. 

Begitu juga konon saat Rasul di Madinah mempersilakan tamu dari non muslim utk beribadah di masjid. Cerita lainnya, pernah sahabat Umar mengirimkan tulang yg diberi tanda silang dgn pedangnya karena ada seorang Kristen yg mengadu bhw tanahnya akan diambil gubernur utk dijadikan masjid. Begitu jelasnya Umar menegakkan keadilan saat dimana islam bisa berbuat apa saja, tapi bukan itu esensi beragama, apalagi kalau selalu mengucapkan rahmatanlilalamin. Begitulah indahnya beragama saat itu, apa karena dulu belum ada jual beli kavling surga, shg masih bebas saling memilih utk kelak dipakai bersama.

Teringat dan ingin selalu membaca lagi Piagam Madinah, ya Rasul maafkan kami, ya Allah ampuni kami..Kami sekarang banyak yg bisu tuli, yg kami tonjolkan hanya emosi, bahkan kepada ulil amri yg harusnya kami hormati. 

Ya Allah biarkan kami menggantikan dosa prempuan dan anjingnya yg masuk ke masjid karena tanpa sadarnya, tapi kami takut jangan² kami yg lebih tak bermakna dari anjing yg dianggap hina..ya Rabb..masihkah kami lebih mulia dari anjing,..karena nyalak kami lebih keras dari anjing dimimbar masjid, dan kami masih terus merasa mulia..ataghfirullah alazhim..

 

(Sumber: facebook Iyyas Subiakto)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed