REDAKSIINDONESIA-Kalangan muslim garis keras kerap menyatakan bahwa Indonesia berada dalam kondisi Darul Harb (kondisi perang) belum berpindah ke Darussalam (kondisi damai). Tentu saja ini berbahaya, karena dalam kondisi ini menganalogikan bahwa islam hari ini disamakan dengan zaman Rasulullah sebelum masa hijrah ke Madinah,ketika relasi umat islam dengan non-muslim belum terbentuk dan cenderung bermusuhan.
Indonesia
Gus Dur dan Pencacinya
Indonesia Juara Satu, Saudi Juara Dua
Pas melihat Raja Saudi, boro-boro jenggotan. Wajahnya malah kelimis dengan kumis yang manis.
Saat sholat, mereka melebarkan kaki. Harus menyentuh jari-jari kaki orang di sebalahnya. Kadang malah membuat takut jemaah lain karena disangka mau diinjak.
Tapi melihat raja Saudi sholat sunah di Istiqlal, bukaan kakinya biasa aja. Gak dibuka lebar seperti kiper berhadapan dengan tendangan pinalti.
Indonesia, Saudi, dan China
Tidak ada sama sekali isu tentang kekhawatiran bahaya laten komunis dan tetek-bengek lainnya seperti yang dikumandangkan oleh jamaah "Bani Nasbung" di Indonesia. Warga Saudi hepi-hepi saja dengan aneka produk China yang "mengsunami" kawasan Jazirah Arab ini: dari ponsel sampai boneka onta he he. Bukan hanya China, produk-produk dari Russia yang sebagian berlogo palu arit seperti dalam foto ini (kredit foto untuk Pak Kiai Nurul Huda) juga bertebaran di Saudi.
Soekarno dan Masjid Istiqlal
Simbol Kemajuan Peradaban
Soekarno mengatakan jika candi Borobudur dapat berdiri ratusan tahun, Masjid Istiqlal akan berdiri kokoh hingga ribuan tahun. Soekarno mengambil perumpamaan Borobudur sebagai simbol kemajuan peradaban Indonesia di masa lalu. Soekarno hendak menyatakan bahwa peradaban Indonesia sudah maju di masa silam. Peradaban maju itu mandek dan dihancurkan oleh kolonialisme.
Indonesia adalah Rumah Bersama
Ekonomi Indonesia Hadapi Lawan-Lawan Tak Kelihatan
Tiongkok dan Salut untuk Jokowi
Uni Emirart Arab, Begini Soal Toleransi
Oleh : Sumanto Al Qurtuby
Selain Lebanon dan Qatar yang sudah saya jelaskan sebelumnya, Uni Emirat Arab juga menarik untuk disimak. Jika Lebanon adalah “negara Arab” yang menerapkan mekanisme “power sharing” atau bagi-bagi kekuasaan antarkelompok agama, baik Muslim maupun non-Muslim, dalam sistem politik-pemerintahan, sementara Qatar dikenal dengan julukan negara “Wahabi mederat-liberal” karena sangat terbuka dengan modernisasi dan fleksibel dalam keagamaan, maka Uni Emirat Arab (UEA) cukup populer dengan budaya toleransi agama.










