media sosial

Belajar Dari China

Seperti contoh, sejak lama China memblokir Google. Hal itu mereka lakukan karena melindungi aplikasi yang sejenis produksi mereka sendiri seperti Baidu.

Nilai kapitalisasi Baidu sendiri tahun 2014 mencapai 500 miliar dollar. Hampir sama dengan nilai Google. Ini menunjukkan bahwa China berhasil memasarkan produknya ke pasar internasional.

Mewaspadai Pendangkalan Kehidupan dan Keagamaan via Media Sosial

Sekarang bayangkan jika “pendangkalan” ini dibawa ke sikap dan pandangan hidup. Orang lebih suka menghakimi keluar, lalu lupa menengok ke dalam. Di luar dirinya, betapa banyak kesalahan yang dilihat; tetapi berapa banyak kesalahan dalam diri sendiri yang kita lihat?

Panduan Strategi NU Melawan Kaum Intoleran

Ilustrasi
NU mengajak Netizen dengan langkah sbb :
 
1. SHARE, SHARE, SHARE !
Klik tombol share sebisa mungkin pada setiap berita positif, tulisan kritis, meme, dll.. pegang prinsip "syarat kezaliman untuk menang adalah orang baik diam". Jadi saat anda ragu menshare, radikalisme telah menang
 
2. UNFRIEND/BLOCK.

Media Sosial dalam Demokrasi

Apakah dinamika seperti ini kontraproduktif? Iya hingga titik tertentu, tapi itulah ongkos demokrasi. Berbagai kelompok muslim anti NKRI bermain intensif. Betapapun mereka menolak disebut demikian, mindset itu tidak bisa disembunyikan. Demokrasi memang memberi ruang bagi siapa saja untuk berpartisipasi, termasuk golongan anti demokrasi, dan disini terkandung persoalan.

Ketika Medsos Membuka Siapa Kamu Sebenarnya

Oleh : Denny Siregar

"Hati-hati dengan apa yang kamu pikirkan sekarang.."

Begitu kata temanku seorang manager HRD di sebuah perusahaan besar menceritakan rahasia bagaimana ia mengurus penerimaan pegawai.

"Sebuah perusahaan besar, seperti perusahaan tempatku bekerja, tidak bisa main2 dalam menerima seorang pegawai baru. Banyak kriteria yang harus kami ambil dari seseorang yang ingin menjadi bagian dari keluarga besar."

Polisi Ringkus Penebar Kebencian di Medsos

Ilustrasi

Redaksiindonesia - Polisi menangkap satu orang tersangka penyebar ujaran kebencian di media sosial terkait aksi ricuh di Tanjungbalai beberapa waktu lalu. Adapun tersangka tersebut diketahu berinisial AT (41), warga Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Wakil Direktur Reserse Kriminal Khusus AKBP Hengki Haryadi mengatakan, AT menyebarkan ujaran kebencian tersebut di akun Facebook pribadinya. AT menuliskan ujaran kebencian tersebut pada Minggu (31/7/2016) lalu.

Pages