sunardian

Penyakit Karena Kepo

Aliran Mu'tazilah kurang diterima karena beranggapan akal manusia lebih baik dibanding tradisi (puritanisme). Penganut aliran ini cenderung menginterpretasikan Alquran secara lebih bebas dibanding kebanyakan umat muslim.

Ibnu Sina telah membaca Alquran dan sastra sejak umur 10 tahun. Dilahirkan 980 Masehi di Uzbekistan, ia diijinkan bebas menggunakan perpustakaan kerajaan Samanid, sebagai ucapan terimakasih Sultan Bukhara yang disembuhkan oleh Sina. Waktu itu, Sina berusia 16 tahun. 

Mengukur Kinerja Gubernur

Dalam literatur ilmu manajemen, kata teman saya, ada banyak metode bisa digunakan. Salah satunya metode Malcom Baldrige (Menteri Perdagangan AS, 1981-1987), yang pada awalnya merupakan penilaian untuk penghargaan yang diberikan Kongres Amerika Serikat bagi organisasi atau perusahaan yang mempunyai komitmen tinggi dalam menjacapai kinerja terbaiknya. We can not manage what we can not measure. Kita tidak dapat mengelola sesuatu yang tidak dapat kita ukur. Artinya, tinggal kita balik: Yang dapat kita kelola, bisa kita ukur. 

Penyebab Ketidakbecusan

Benarkah isyu (atau masalah) radikalisme tak penting? Karena hanya sekedar pengalihan isu, seperti omongan Fadli Zon? Atau karena yang lebih penting adalah soal ketimpangan ekonomi, juga ketidakadilan?

Persoalannya, kenapa baru sekarang? Bukankah ketidakadilan, kemiskinan, ketimpangan ekonomi di Indonesia sejak rezim Soeharto? Bahkan sejak Sukarno? Kenapa saat itu radikalisme tidak muncul?

Sumpah Serapah Pemuda Pencari Tahta

Dalam Test DNA Pameran ASOI (15/10/2019), Grace Natalie ada darah Arabnya. Najwa Shihab ada Cinanya. Mungkin Amien Rais juga ada darah Aseng, sebagaimana Rizieq Shihab mungkin punya darah Rusia (setahun lalu dari Kementerian Arab Saudi meralat pernyataan bahwa si pelarian itu keturunan ke-38 Kanjeng Nabi Muhammad. Ternyata hoax). Gus Dur sudah lama ngaku keturunan Cina. Nggak seperti mereka, nggak ngakuin Cina, tapi produk makanan, alat musik, pakaian, didaku tanpa malu. Jika dulu Jonroe menuntut test DNA Jokowi, mungkin benar, bukan pribumi. 

Profesor Ember dan Batu-Batu Besar

Beliau mengeluarkan ember kosong dan meletakkannya di meja. Rasa-rasanya, cuma beliau satu-satunya, profesor yang ngajar dengan membawa ember dari rumah. Karena bukan Prof. Faruk atau Prof. Suminto dan Prof Sumanto, namakan saja beliau Profesor Ember.

Beliau mengisi ember tersebut dengan batu sebesar kepalan tangan. Mengisi terus, hingga tak ada lagi batu yang cukup untuk dimasukkan.

Beliau bertanya. "Menurut kalian, apakah ember ini telah penuh?"

Pages